Pulangnya TKI Ilegal (3)
Di Sana Calo, di Sini Calo
Jumat, 05 Nov 2004 11:16 WIB
Dumai - Budaya calo bukan hanya terjadi di Indonesia. Malah sejumlah calo dalam pengurusan pemulangan TKI dari Malaysia juga terjadi di KBRI di Malaysia. Sesudah itu, kembali ke tanah air pun, TKI kembali berhadapan dengan calo. Malang benar nasib TKI. Pemerintah Malaysia menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini mengeluarkan kebijakan pemberian amnesti bagi ratusan ribu TKI ilegal atau dikenal di negeri jiran itu sebagai 'pandatang haram'. Dalam kebijakan ini, pemerintah Malaysia dan Indonesia sepakat untuk memulangkan TKI ilegal itu dari semenanjung bumi Melayu. Pemberian amnesti itu dibekali sebuah Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) yang dikeluakan KBRI di Kuala Lumpur. Secara nasional, menurut Dubes RI untuk Malaysia Rusdihardjo, pihaknya telah mengeluarkan 20 ribu SPLP. Namun, dalam kurun waktu sepekan terakhir ini, baru sekitar 2.000 TKI ilegal yang kembali ke tanah air.Banyaknya TKI yang akan mengurus SPLP ini, memunculkan kisah-kisah tersendiri. Sebelum kebijakan amnesti itu berakhir pada hari raya ini, tak tanggung-tanggung ratusan ribu orang TKI ilegal mesti sesegara mungkin mengurus SPLP itu. Sebab, bulan Januari 2005 nanti, kebijakan itu akan segera berakhir. Karena itulah, KBRI sibuk melayani TKI yang akan mendapatkan SPLP tersebut.Saban hari terjadi antrean ribuan orang untuk mendapatkan surat βsaktiβuntuk kembali ke tanah air itu. Antrean yang melelahkan di KBRI itu telah melahirkan ratusan orang calo yang tampaknya dipelihara. Calo-calo inilah yang bergentayangan mendatangi para TKI untuk menawarkan jalan cepat mendapatkan SPLP dari KBRI tersebut. Melihat antrean yang mengular, dengan terpaksa para TKI mesti berhadapan dengan calo SPLP di KBRI itu.Padahal, pengurusan SPLP itu tarif resminya hanya 40 Ringgit per orang. Tapi, bila mengikuti cara-cara resmi itu, seorang TKI bisa satu hari satu malam untuk ikut antrean panjang yang melelahkan itu. Melihat rasa jenuh dan urusan yang sengaja dipersulit KBRI ini, maka sang calo leluasa untuk melakukan pungli kepada TKI.Kalau lewat calo, untuk pengurusan SPLP itu harganya bervariasi antara 150 Ringgit sampai 200 Ringgit per orang. Memang, apa yang dijanjikan sang calo pengurus ekspres itu benar adanya. Tak sampai hitungan 2 jam, TKI bisa mendapatkan SPLP lewat jalur khusus ke KBRI.βDari pada antre sampai dua hari, kita mengurus SPLP lewat calo. Pengakuan calo sama kami, mereka sudah mendapat izin resmi dari pihak KBRI kita. Jadi walau dengan berat hati, kita membayar lebih dari 200 persen dari harga resmi,β ujar Jailani, TKI asal Sumatera Selatan itu kepada detikcom.Anehnya, Kepala KBRI Rusdihardjo tidak menampik bila ada calo di tempat dia bertugas. Tapi, dia membantah calo itu sengaja dipelihara pihak KBRI. Mantan Kapolri ini malah menyalahkan TKI itu yang mau mengurus lewat calo. Mestinya, para TKI itu tidak menggunakan jalur-jalur tidak resmi yang melakukan pungutan SPLP di luar harga yang telah ditetapkan.βYang salah warga kita sendiri, kenapa mereka mau mengurus lewat calo. Mestinya kan lewat jalur resmi,β kata enteng saat ditemui detikcom, di Dumai dalam acara dialog TKI dengan Presiden RI SBY.Ungkapan Kepala KBRI itu tentulah membingungkan. Dia mengakui adanya calo tapi dia tidak melarang bila calo itu melakukan pungutan liar pada bangsanya sendiri. Mestinya untuk tidak memberatkan para TKI ini, Rusdihardjo berani memangkas para calo di tempat dia berkerja. βBukan lantas menyalahkan kami yang mengurus lewat calo. Kalau tidak lewat calo urusan kita dipersulit kok,β ungkap Nurdin salah seorang TKI asal Bengkulu.Selain kena calo di negeri jiran, sekembalinya ke tanah air, ribuan TKI kembali berhadapan dengan calo sesama anak bangsa. Mulai dari kapal, para TKI sudah berhadapan langsung dengan calo. Begitu merapat di pelabuhan Dumai, atau sekitar 200 km arah utara dari Pekanbaru, mereka mesti berhadapan dengan calo buruh angkut. Padahal harga mengangkat sebuah tas dari pelabuhan tempat penampungan TKI paling banter Rp 5.000/ sekali angkut.Tapi, para TKI ini sedikit diperas dan mesti membayar minimal Rp 20 ribu per sekali angkut. Bila tidak dituruti, para kuli angkut ini tidak segan-segan mengancam untuk mengajak berkelahi. βDaripada kita berhadapan dengan para kuli angkut itu, kita terpaksa membayar ongkos angkut yang tidak wajar lagi,β kata Arman salah seorang TKI asal Jambi.Ini belum gentayangannya calo agen bus yang terus menerus membuntuti para TKI. Sebab, sebagaimana anjuran Kapolda Riau Brigjen Deddy S Komaruddin, TKI itu memang tidak diberi kesempatan untuk istirahat sejenak di Dumai. Begitu mereka keluar dari kapal, TKI itu terus digiring ke terminal bus. Ini guna menghindari jangan adanya TKI yang berkeliaran di Dumai untuk kembali berangkat ke Malaysia lewat jalur culas.Dengan keterpaksaan itu, manalah mungkin TKI sempat lagi untuk mengurus tiket bus mereka. Dengan terpaksa mereka menerima kedatangan calo agen bus yang menawarkan harga tiket jauh dari harga normal. Bayangkan saja, untuk perejalanan dari Dumai ke Jambi, misalnya, harga tiket normal hanya berkisar Rp 130 ribu per orang. Namun, k emana mereka mau mencari agen-agen resmi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) itu.Jalan satu-satunya agar mereka segera kembali ke daerahnya masing-masing harus membeli tiket lewat calo. Tapi,hargnya pun melonjak di atas harga normal. Bayangkan, Irwan asal jambi itu, mesti membeli tiket dengan harga Rp 230.000/ orang. βMau beli lewat agen resmi, kita sendiri tidak tahu di mana lokasinya. Dari pada tidak pulang ke kampung, kita terpaksa beli lewat calo,β tutur Irwan.Bersyukur bagi TKI yang memiliki dana untuk pulang kampung. Tapi berdasarkan catatan detikcom, di Dumai sempat terdapat 70 orang TKI terlantar 2 hari di Dumai. Untunglah, mereka diberi dana bantuan dari Pemerintah Kota Dumai untuk pemulangan ke kampung halamannya masing-masing.Husin Arba asal Sumsel itu mengaku, sejak pulang dari Malaysia sama sekali tidak mengantongi uang. Ini karena gajinya sebagai buruh diperkebunan kelapa sawit selama empat bulan ini belum dibayar majikannya. Katanya, gaji itu akan dikirim lewat rekening. βSaya tak punya duit karena gaji empat bulan belum dibayar majikan. Setiap saya minta, majikan berjanji akan mengirimkan lewat rekening. Kan itu mustahil mereka kirimkan,β ujar Husin.
(asy/)











































