Pulangnya TKI Ilegal (2)
Seribu Duka dari Negeri Seberang
Jumat, 05 Nov 2004 11:00 WIB
Dumai - Banyak cerita duka merantau ke negeri jiran Malaysia. Namun hal itu tidak menyurutkan niat ratusan ribu anak bangsa ini untuk tetap hijrah ke negara jiran itu. Demi Ringgit. Indonesia diangap rakyatnya tidak lagi menjanjikan untuk bertahan hidup. Seribu cerita duka merupakan kenangan pahit para TKI.Sebuah kapal penumpang umum dari Malaysia merapat di demaga Dumai. Siang itu, puluhan aparat berseragam dari berbagai instansi mengawasi para penumpang yang akan menginjakkan kakinya di Dumai. Kapal berbendera Indonesia itu, setidaknya membawa 300 penumpang. Mereka terdiri dari penumpang umum dan penumpang TKI ilegal.Satu demi satu, dari ratusan penumpang itu tampak keluar dari pintu kapal. Wajah-wajah lelah terpancar dari penumpang itu setelah sekitar 7 jam terapung di laut Selat Malaka. Sebagian besar mereka berpakaian ala kadarnya, tidak terlihat bila mereka adalah pelancong yang akan bersantai di Dumai. Baju kumal, wajah pucat, tatapan mata yang hampa tercermin dari mereka TKI ilegal yang datang ke tanah leluhurnya.Edy Irawan (26) ayah dari satu orang bocah itu tampak sibuk memanggul tiga tas besar yang entah apa isinya. Badannya sampai membungkuk membawa tas itu. Sudah empat orang buruh angkut di pelabuhan itu menawarkan jasa untuk membantu membawa barangnya dari kapal menuju ke tempat penampungan yang jaraknya hanya sekitar 30 meter.Empat kali penawaran itu tetap dia tolak. Dia membiarkan punggungnya untuk membawa beban berat itu. Dengan tertatih-tatih, TKI ilegal asal Jambi itu sampai juga ke tempat penampungan. Dia letakkan beban itu sembari menarik nafas yang panjang. Disapunya wajahnya yang lusuh itu dengan baju yang kumal. Diliriknya Aisyah (23) sang istri yang menggendong Rini (6 bulan), putri pertamanya, yang lahir di negeri jiran Malaysia itu.Bocah mungil yang belum berdosa itu, tampak tenang dan tersenyum manis. Dia tidak tahu, bila di sekelilingnya ada ratusan orang senasib dengan ayahnya yang mendapat pengampunan dari pemerintah Malayasia untuk pulang ke Indonesia. Sebuah botol air mineral yang tersedia di tempat penampungan itu diteguk pasangan suami istri itu. Mereka tak peduli, saat menengak minuman itu, di sekelilingnya banyak juga orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.Kepada detikcom, Edy berbadan kecil berambut keriting itu, menceritakan segudang suka dan duka dari negeri jiran. Sudah empat tahun pria kelahiran Kerinci, Jambi itu mengadu nasibnya bekerja sebagai buruh bangunan di sekitar kota Kuala Lumpur. Gajinya memang tidak bisa dipastikan berapa sebulan yang dia dapatkan. Tapi, paling tidak sebagai buruh bangunan di Malaysia, dia bisa mendapat upah minimal 50 ringgit dalam sehari. Kadang bisa juga lebih dari itu, tapi semuanya tergantung bila ada orderan kerja. “Malah, kadang kita tidak dapat kerjaan, jika tidak ada orderan dari mandor bangunan,” kata Edy.Kendati tidak pasti berapa penghasilannya, yang jelas dia sempat bertahan hidup selama empat tahun di Malaysia. Dia mengaku sudah dua kali kembali ke tanah air. Dua tahun yang silam, Edy juga pernah kembali ke kampung halamannya. Waktu itu kembalinya Edy hanya untuk meminang Aisyah yang juga masih tetanggnya. Setelah itu, pasangan suami istri ini nekat kembali ke Malaysia walau mereka sebagai pandatang 'haram'.Di sana, istri tercintanya bekerja sebagai pembantu di salah satu rumah makan. Penghasilannya juga tak jauh beda dengan Edy. Tapi, paling tidak gaji yang mereka terima itu masih jauh lebih baik ketimbang mereka bekerja di tanah air. Mungkin untuk ukuran sekedar hidup di Malaysia itu gaji keduanya sudah lebih dari cukup. Namun bukan berarti mereka bisa menabung banyak. Sebab, mereka adalah salah satu dari ratusan ribu TKI ilegal yang selalu kucing-kucingan dengan pihak kepolisian Malaysia. Mereka seakan menjadi sapi perahan. Hampir saban awal bulan, pihak kepolisian Malaysia melakukan razia ke tempat-tempat penampungan TKI ilegal. Kalau sudah begini, majikan mereka pun lepas tangan. Semacam sudah menjadi rutinitas pihak kepolisian untuk mencari tambahan gaji.“Kalau kita kena razia oleh dua orang polisi, maka mau tidak mau, satu orang kita dikenakan pungli 200 Ringgit. Kalau tidak kita beri uang suap, kita akan dimasukkan dalam penjara. Inilah yang kami hadapi saban bulan. Kalau pun ada sisa gaji sedikit, semuanya habis untuk memberi suap polisi Malaysia,” keluh Edy, salah satu dari ratusan ribu TKI ilegal yang mengalami nasib yang sama.Lain lagi cerita Nurma Sari (24) TKW yang juga berasal dari Jambi. Dalam dialog dengan Presiden RI, Rabu (3/11/2004) di halaman PT Pelindo, wanita berambut keriting itu dengan lugas mengungkapkan derita rekan-rekan senasibnya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.Dengan logat Jambinya yang masih kental, di depan pasangan ribuan mata, dia sempat meneteskan air mata mengenang nasib buruk yang dialami pembantu rumah tangga. Menurut cerita Nurma ke Presiden, pembantu rumah tangga dari Indonesia di Malaysia tidak hanya sekedar bekerja untuk membersihkan keperluan rumah tangga saja. Lebih dari itu, tidak sedikit TKW Indonesia malah dipaksa untuk melayani juragan mereka di atas ranjang.Mau menolak permintaan juragan dalam melayani nafsu bejatnya, mereka takut dilaporkan kepolisi lantas dijebloskan ke penjara. Sehingga mau tidak mau, bukan rahasia umum lagi, bila pembantu rumah tangga Indonesia selalu mendapat perlakuan pelecehan seksual. “Banyak kok teman-teman saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga sekaligus melayani nafsu sang majikan. Pak Presiden, itulah kondisi kami di Malaysia,” tutur Nurma sembari menitikkan air mata. Ratusan peserta yang ikut dialog dengan presiden itu tampak terenyuh mendengar perjalanan panjang Nurma dari salah satu ribuan TKW yang senasib dengannya. “Kadang sebelum diberangkatkan ke Malaysia, tak jarang TKW diminta melayani nafsu para agen TKI resmi di Indonesia,” kata Nurma.Presiden RI SBY yang didampingi sejumlah kabinetnya, tampak terdiam melihat keluhan rakyatnya. SBY sempat termenung sejenak sebelum menanggapi cerita duka Nurma tersebut. Dengan manarik nafas yang panjang, Presiden meminta Dubas RI di Malaysia untuk memperhatikan nasib rakyatnya itu.Melihat pengakuan Nurma bahwa ada agen TKI resmi yang juga meminta pelayanan seksual itu, SBY dengan tegas berjanji akan menindak tegas para agen resmi TKI dan aparat yang terbukti telah mempersulit para TKI untuk mencari nafkah di negeri sebarang. “Saya berjanji, siapa pun orangnya yang mempersulit kepergian TKI akan saya tindak,” katanya.Sebagai wujud perhatian presiden terhadap nasib TKI itu, dia akan membuat kotak surat resmi khusus pengaduan tentang nasib TKI, baik yang bekerja di Malaysia maupun di negara lainnya. “Kalau memang ada TKI yang mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari para agen TKI dan aparat di Indonesia, silakan kirim surat ke saya lewat kotak surat yang akan saya buat dalam waktu dekat ini. Sepanjang surat itu benar dan tidak fitnah, saya akan menindak tegas,” janji SBY.
(asy/)











































