Perintah Presiden Diabaikan, 450 TKI Terlantar di Dumai
Jumat, 05 Nov 2004 00:50 WIB
Dumai - Malang benar nasib TKI ilegal sesampainya di tanah air lewat pintu pelabuhan Dumai-Riau. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memerintahkan agar Pemerintah Kota Dumai dan Pemerintah Provinsi Riau membantu dana pemulangan TKI. Tapi sayang, perintah orang nomor satu di Indonesia itu diabaikan. Akibatnya, sekitar 450 TKI pun terlantar.Para TKI yang mendapat amnesti dari Pemerintah Malaysia itu tidak bisa kembali ke kampung halamannya karena tidak memiliki ongkos pulang. Padahal SBY bersama kabinetnya baru berkunjung pada 3 November 2004 ke Dumai, terpaut 200 km arah utara dari Pekanbaru.SBY meminta pemerintah Provinsi Riau dan Pemkot Dumai untuk memfasilitasi pemulangan TKI ke daerah asalnya. Tapi sayangnya, perintah SBY ternyata tidak digubris Pemerintah Riau dan Pemko Dumai.Buktinya pada Kamis malam (4/11/2004), 300 TKI yang bahkan sempat ikut berdialog dengan SBY masih terkatung-katung nasibnya di Riau. Ditambah lagi pada sekitar pukul 17.00 WIB, 160 TKI bermasalah kembali memadati pelabuhan di Dumai. Dengan demikian, jumlah TKI yang terlantar menjadi 450 orang.Sebagian besar TKI tidak lagi memiliki dana untuk bisa pulang kampung. Mereka berharap, seperti dijanjikan SBY, akan dipulangkan dari Dumai ke daerah asal dengan dibantu dana pemerintah. Tapi rupanya pelaksanaan di lapangan berbeda. Tidak terlihat niat Pemkot Dumai dan Pemprov Riau untuk membantu nasib TKI yang malang itu."Barusan kemarin Pak SBY memerintahkan Pemda setempat untuk membantu kami pulang ke daerah asal. Tapi perintah Pak SBY itu tidak ditepati. Kami tidak bisa pulang karena tidak punya uang lagi," keluh seorang TKI bernama Abdul kepada detikcom di Dumai, Kamis (4/11/2004).Kini ratusan TKI itu diinapkan di bekas Gedung DPRD Kota Dumai dengan fasilitas ala kadarnya. Mereka yang terdiri dari anak-anak hinga orang dewasa itu berkumpul bersama dengan beralaskan tikar. Mereka tidak diberi makan atau fasilitas lainnya. Dapur umum seperti laporan Wakil Gubenur Riau Wan Abubakar di hadapan SBY ternyata hanya sebatas laporan kertas belaka."Dapur umum apa! Wong kita makan saja berbagi dengan teman-teman yang lain. Kami di Dumai ini sepertinya dianggap sampah. Kemarin Pak Wakil Gubernur Riau bilang, kami disediakan dapur umum. Nyatanya itu cuma bohong," tukas Muroanti, TKI asal Lumajang Jawa Tengah.Ratusan TKI yang terlantar tersebut sebagian besar berasal dari Sumatra. Sedangkan sisanya dari Jatim, Jateng, NTT, dan ada juga dari Kalimantan. Mereka tidak bisa berbuat banyak mengatasi malah tersebut. Mereka mengharapkan dana bantuan pemerintah untuk segara memulangkannya ke kampung halaman."Dari mana ongkos kami, Pak. Gaji enam bulan dari Malaysia tidak dibayar majikan. Anehnya, kami malah disebut-sebut banyak uang pulang dari Malaysia," keluh Anton, TKI yang bekerja sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit di Malaysia.
(sss/)











































