Ditemui Komisi IX DPR, 80 TKI Tiba di Tanjung Priok

Ditemui Komisi IX DPR, 80 TKI Tiba di Tanjung Priok

- detikNews
Kamis, 04 Nov 2004 19:22 WIB
Jakarta - Sekitar 80 TKI tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Tidak semuanya berstatus ilegal, ada juga yang legal. Mereka ditemui Komisi IX DPR.Para TKI dari Malaysia ini sebelumnya singgah di Batam. Mereka tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dengan menggunakan KM Kelud pukul 17.10 WIB, Kamis (4/11/2004).Kebanyakan TKI adalah laki-laki dan terlihat sehat kondisinya. Sebagian besar mereka mengeluhkan pungutan demi pungutan maupun biaya yang harus mereka keluarkan selama dalam perjalanan, baik di Malaysia maupun di Batam.Abdullah Taher (29) asal Situbondo menuturkan, saat mengurus surat pengampunan (amnesti) di Malaysia, dirinya dipungut biaya 50 ringgit, padahal harga resminya 40 ringgit."Kemudian saat di Batam, saya dipungut biaya Rp 20 ribu untuk makan. Padahal kalau beli sendiri hanya Rp 5 ribu. Tiket dari Malaysia ke Batam diharuskan membayar Rp 140 ribu yang dibeli langsung di atas kapal. Kemudian tiket Batam-Jakarta Rp 200 ribu," urainya.Taher mengaku ke Malaysia dengan menggunakan paspor kunjungan wisata. Tapi setelah visanya habis, dirinya mencari kerja sebagai kuli bangunan."Perlakuan petugas selama di Batam sangat ketat sehingga sulit kemana-mana. Misalnya mau beli makanan saja jadi tidak bebas. Mungkin mereka takut kita lari lagi ke Malaysia," tukasnya.Ali Suwarno asal Cilacap mengaku ke Malaysia melalui PJTKI resmi. "Saya ke Malaysia bulan Februari 2004, kerja di perkebunan dengan gaji 25 ringgit per hari. Saya pulang karena ingin ketemu keluarga," katanya.Beberapa TKI mengaku tidak kapok menjadi TKI ilegal. Bahkan mereka ingin kembali lagi ke Malaysia dengan status TKI ilegal. "Di sana mudah mencari kerja. Tapi maunya tetap jadi TKI ilegal, sebab bayarannya lebih mahal, besarnya 60 ringgit per hari, kalau legal hanya 28 ringgit," ungkap Ahmad Surosa blak-blakan.Kedatangan para TKI ditemui sekitar 9 anggota Komisi IX DPR. Antara lain Wakil Ketua Eka Ciptaning dari FPDIP, anggota Mariamah dan Wasma dari FPG. Para anggota dewan menyempatkan diri mengobrol bersama para TKI dan mendengarkan keluhan mereka."Kita ingin tahu secara langsung kondisi TKI. Mereka kebanyakan mengeluhkan birokrasi pemerintah yang berbelit-belit untuk mengurus izin kerja, sehingga kebanyakan para TKI memilih jalur ilegal. Tapi TKI yang tiba hari ini campuran, ada yang ilegal, ada juga yang legal," kata Mariamah.Dijelaskan dia, selain melihat kondisi TKI, kedatangan dewan ke pelabuhan juga untuk memantau kesiapan pelabuhan dalam hal angkutan Lebaran, Natal dan Tahun Baru.Setelah berlabuh, para TKI dikumpulkan pihak pelabuhan di ruang tunggu debarkasi TKI untuk didata oleh petugas. Pihak Dinas Sosial kemudian membagikan roti dan botol air mineral untuk buka puasa. Sejumlah aparat tampak berjaga-jaga di sekitar pelabuhan. Tersedia juga 4 unit 4 ambulans dan tenaga medis dari PMI.Sempat terjadi keributan kecil di ruang tunggu debarkasi TKI saat sekitar 20 TKI digiring seorang pria yang mengaku penjemput TKI menuju Kebumen. Para TKI dikenakan biaya Rp 100 ribu per orang. Sekitar 5 polisi mencegah mereka keluar dari pelabuhan dan meminta mereka menunggu. Polisi kemudian menginterogasi sang penjemput untuk membuktikan kebenaran statusnya.Sementara para TKI yang sudah memiliki tiket untuk pulang ke daerahnya masing-masing melanjutkan perjalanan dengan bus. Sedangkan yang belum punya tiket diurus Dinas Sosial untuk dicarikan tiket kepulangannya. Hingga pukul 19.00 WIB, sekitar 13 TKI masih tertahan di pelabuhan karena belum punya tiket. (sss/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini