"Saya kira itu perlu (diusut), kalau tidak diusut tidak terbuka nantinya," kata sosiolog kriminalitas UGM Suprapto saat berbincang dengan detikcom, Kamis (19/9/2013).
Suprapto meminta polisi lebih ketat mengawasi gerak-gerik Freddy selama di tahanan. Hanya dengan hal itu Freddy akan terbatas ruang geraknya.
"Dalam tanda petik, sayap kepolisian harus dikembangkan lebih lebar, intensitas harus lebih kuat, tidak kendor, dan secara kontinyu," imbuhnya.
Suprapto meyakini ada prinsip illegal abuses of economy power dalam kasus Freddy Budiman. Maka setiap aparat penegak hukum harus punya integritas yang tinggi dalam bertugas.
"Semua petugas harus konsekuen, harus punya sifat untouchable by money. Artinya budaya suap itu bisa diminimalkan dan dihilangkan supaya semakin lama semakin baik dalam menyelesaikan apa pun," tutupnya.
Pada Rabu (18/9) kemarin Anggita mengaku dia liburan ke Bali dibiayai Freddy. Anggita juga menikmati hotel mewah milik Freddy di Kuta.
"Aku dikasih hadiah liburan di hotelnya Freddy yang di Bali. Soalnya aku pusing dikejar wartawan," terang Anggita saat berbincang dengan detikcom.
Walau di penjara dan sudah divonis mati di tingkat pengadilan pertama karena kepemilikan 1,4 juta butir ekstasi, Freddy dikenal memiliki berbagai jenis usaha. Mulai dari tempat hiburan sampai hotel. Freddy yang semula diasingkan ke Nusakambangan, saat ini dibawa kembali ke Jakarta untuk penyelidikan kasus narkoba lainnya.
(ega/nrl)











































