Warga Kritik Rencana Pengeboran PLTP Baturaden

Warga Kritik Rencana Pengeboran PLTP Baturaden

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 18 Sep 2013 18:41 WIB
Banyumas, - Warga di Lereng Gunung Slamet mengkritik rencana Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturaden menyedot air dari dua sungai yang membelah Kota Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Penyedotan sungai yang sumber mata airnya ada di Gunung Slamet itu dikhawatirkan akan berdampak pada pertanian dan kebutuhan air bersih warga setempat.

“Sekarang saja kalau tidak hujan 3-5 hari, debit air merosot sangat tajam. Bagaimana nanti kalau disedot,” kata Agung Budi Satrio, tokoh Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng Banyumas, Rabu (18/9/2013).

Menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kabupaten Banyumas, Irawadi mengatakan, pengeboran pembangkit panas bumi akan menggunakan air permukaan dari Sungai Banjaran dan Logawa. Pengambilan air untuk kebutuhan pengeboran juga tidak akan mengganggu pasokan air untuk masyarakat Banyumas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kami hanya mengambil dua persen debit air dari dua sungai,” kata dia.

Menurut dia, total debit air dua sungai tersebut sebanyak 21.038 liter per detik. Sedangkan untuk pengeboran hanya dibutuhkan 833 liter per detik. Pengambilan air juga hanya sekali disaat proses awal pengeboran sumur eksplorasi. Pengambilan air juga sudah di perhitungkan dengan cara berapa besar debit air yang digunakan untuk masyarakat umum dalam hal ini petani di Kabupaten Banyumas, kebutuhan air untuk PDAM Banyumas, dan kebutuhan lain.

"Dinas juga mengkaji berapa curah hujan di titik-titik mata air dua sungai itu. Berapa jumlah tegakan hutan lindung yang mampu menghasilkan sumber mata air," jelasnya.

Sementara menurut aktivis lingkungan dari Komunitas Peduli Slamet, Dhani Armanto, data besaran debit air yang dikeluarkan Dinas sangat meragukan. Dari penghitungan di bendungan bawah sejak 2008 hingga 2010, debit Sungai Banjaran rata-rata hanya 1.200 liter per detik. Sedangkan debit Sungai Logawa hanya 3.300 liter per detik. “Debit dua sungai tak sebesar itu. Sejak 2008, debit air terus mengalami penurunan,” katanya.

Dia juga meminta Dinas untuk segera mensosialisasikan rencana pengambilan air tersebut ke penduduk sekitar gunung. Apalagi air pengeboran nantinya akan menghasilkan limbah berupa lumpur dan logam berat. “Apakah nantinya ada penampungan limbah, ini juga harus disosialisasikan. Penduduk berhak tahu atas resiko ini” ujarnya.

Nantinya, pembangkit listrik panas bumi tersebut akan menggunakan hutan lindung seluas 44 hektare di empat lokasi sumur di wilayah Brebes dan Banyumas. Proyek ini dikerjakan oleh PT Sejahtera Alam Energy dengan total nilai investasi Rp 7 triliun. Pembangkit ini ditargetkan selesai pada tahun 2017 dan akan memproduksi listrik sebesar 110 Mega Watt, tahap II tahun 2019 mencapai 77 Mega Watt, dan tahap III tahun 2022 sebesar 44 Mega Watt. Sehingga total produksinya mencapai 131 Mega Watt.

(alg/lh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads