Namun, pengalihan arus ini tergantung dari titik-titik area lokasi konstruksi, dan wilayah sekitarnya. Sehingga mekanisme pengalihan di setiap ruas jalan berbeda-beda. Untuk pengalihan arus ini PT MRT mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi DKI, Kementerian Perhubungan serta Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.
Selain itu, juga akan dikukan upaya pengaturan jadwal kontruksi untuk mengurangi dampak lalu lintas. Antara lain, pengaturan penyimpanan alat kontruksi, pengaturan jadwal mobilisasi peralatan berat, serta penempatan petugas lalu lintas yang akan disiagakan selama proses kontruksi berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dono untuk persiapan pengerjaan proyek MRT sejak dua pekan lalu sudah dilakukan tes eksplorasi di dua lokasi di Jalan Sudirman. Khusus untuk groundbreaking bakal dilakukan di area Dukuh Atas. Adapun persiapan yang sudah dilakukan adalah proses clearance area seperti pemindahan dan pemotongan pohon serta pemasangan pagar.

Kontraktor juga sudah siap mobilisasi peralatan berat serta pembuatan tanggul sementara di Dukuh Atas. “Groundbreaking ini adalah salah satu tahapan dalam persiapan pelaksanaan konstruksi MRT,” katanya.
Soal pelaksanaan konstruksi, Dono menjelaskan ada tiga tahap pekerjaan yang dilakukan PT MRT. Pertama, paket kontruksi layang dan kedua konstruksi untuk underground. Sementara tahap tiga yaitu paket roling stock/kereta.
Untuk paket konstruksi layang, saat ini sudah ada pemenang tender dan sedang disusun kontrak antara PT MRT dengan calon kontraktornya. Sedangkan, paket underground sudah selesai proses lelangnya dan konraktor siap mengerjakan proses konstruksi pembangunan.
Adapun untuk roling stock, masih dalam tahapan penyerahan dan pembukaan dokumen pra kualifikasi yang terdiri dari dua paket yaitu kereta dan sistemnya. “Pelaksanaan konstruksi MRT dilakukan secara paralel. Tahap awal konstruksi untuk bagian under ground karena pelaksanaannya kompleks dan membutuhkan proses waktu yang lama,” ujarnya.
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azaz Tigor Nainggolan mengatakan mestinya PT MRT Jakarta melakukan sosialisasi ke masyarakat minimal enam bulan lalu. Menurut dia apabila nanti pembangunan konstruksi MRT dimulai, masyarakat pasti bingung soal pengalihan arus kendaraan, kemacetan, hingga dampak pengaruh sosialnya.
“Coba bayangkan, di depan rumah dipatok pagar ada pembangunan tapi kita dikasih tahu arahnya bagaimana nanti. Lha, ini enggak ada sosialisasi terbuka. Kami tanya, mereka bingung jawabnya,” kata Azaz kepada detikcom, Selasa (17/9).
Menurut dia seharusnya PT MRT melakukan konsultasi dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terkait masalah sosialisasi. Hal ini dinilai penting karena publik masih awam soal proyek waktu pembangunan MRT meski sudah digembor-gemborkan sejak lama.
Apalagi pengerjaan konstruksi MRT diprediksi akan berlangsung sampai 2019. Kemacetan akibat proyek tersebut diyakini bakal menganggu masyarakat dalam menjalankan rutinitas hariannya.
(erd/erd)











































