Jalan Fatmawati, di Jakarta Selatan juga mulai dilebarkan untuk mendukung pembangunan proyek bernilai triliunan rupiah tersebut. Akibatnya pada jam-jam tertentu ruas jalan Fatmawati, di Jakarta Selatan makin macet. Lajur sebelah kiri yang biasanya digunakan oleh pengendara sepeda motor menjadi berkurang.
Akses kendaraan ke sejumlah pertokoan pun terganggu. Meski memakan trotoar maupun halaman pertokoan, namun sejumlah pengusaha dan pedagang di jalan Fatmawati tak merasa keberatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Santi tidak merasa keberatan dengan rencana pembangunan MRT, apalagi proyek ini untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. βTidak terlalu keberatan karena itu rencana pemerintah. Tergantung pemerintah aja, tidak terlalu pro dan kontra,β kata dia.
Hingga kini dia belum mengambil keputusan bakal memindahkan tenpat usaha, jika trotoar dan halaman rukonya terkena proyek pelebaran jalan. βLihat nanti aja, entar dirapatin lagi,β kata dia. Warga lainnya, Syaali juga tak keberatan dengan pelebaran di jalan Fatmawati untuk proyek MRT.
βYa mendukung saja, di sini gak ada keberatan,β kata salah satu pengusaha karpet ini kepada detikcom.
Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Azaz Tigor Nainggolan mengatakan mestinya PT MRT Jakarta melakukan sosialisasi ke masyarakat minimal enam bulan lalu. Menurut dia apabila nanti pembangunan konstruksi MRT dimulai, masyarakat pasti bingung soal pengalihan arus kendaraan, kemacetan, hingga dampak pengaruh sosialnya.
βCoba bayangkan. Di depan rumah dipatok pagar ada pembangunan tapi kita dikasih tahu arahnya bagaimana nanti. Lha, ini enggak ada sosialisasi terbuka. Kami tanya, mereka bingung jawabnya,β kata Azaz kepada detikcom, Selasa (17/9).
Menurut dia seharusnya PT MRT melakukan konsultasi dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terkait masalah sosialisasi. Hal ini dinilai penting karena publik masih awam soal proyek waktu pembangunan MRT meski sudah digembor-gemborkan sejak lama.
Apalagi pengerjaan konstruksi MRT diprediksi akan berlangsung sampai 2019. Kemacetan akibat proyek tersebut diyakini bakal menganggu masyarakat dalam menjalankan rutinitas hariannya.
Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengakui pengerjaam konstruksi proyek MRT bakal menambah kemacetan di Jakarta. Sejumlah upaya akan dilakukan untuk mengurangi kemacetan, antara lain pengalihan arus lalu lintas.
Namun, pengalihan arus ini tergantung dari titik-titik area lokasi konstruksi, serta wilayah sekitarnya. Sehingga mekanisme pengalihan arus lalu lintas di setiap ruas jalan akan berbeda-beda. Untuk pengalihan arus ini, PT MRT telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi DKI, Kementerian Perhubungan serta Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.
(erd/erd)











































