Dirikan NU CC, Generasi Muda NU akan Awasi Muktamar
Kamis, 04 Nov 2004 16:41 WIB
Solo - Generasi muda di Nahdlatul Ulama mendirikan NU Crisis Center (NU CC) yang mengkonsentrasikan perhatiannya pada pelaksanaan Muktamar NU ke-31 di Solo akhir November nanti. Mereka akan berupaya mengungkap asal dana untuk muktamar yang dinilai tidak disosialisasikan, serta mementahkan semua upaya politisasi NU.NU CC dimotori oleh para simpatisan NU, terutama di Yogyakarta dan Surakarta yang pada bulan Oktober lalu menggelar Mubes Warga NU di Ponpes Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Gus Dur memberi angin pada kegiatan anak-anak muda NU tersebut, namun sejumlah pengurus PBNU yang pro-Hasyim Muzadi menilai kegiatan itu sebagai kegiatan liar yang tidak diatur oleh organisasi.Yang dibicarakan dalam Mubes memang terkesan mengarah pihak-pihak tertentu di PBNU. Misalnya menyebut adanya penyimpangan khittah awal terbentuknya NU, yaitu terjadinya dominasi tanfidziyah (eksekutif) atas ulama (syuriah dan mustasyar) dan membelokkan arah perjuangan NU yang berorientasi pada politik kerakyatan menjadi mengabdi pada politik kekuasaan.Salah seorang tokoh muda NU yang turut memotori berdirinya NU CC, Jazuli A Kasmani, mengatakan bahwa NU CC didirikan memang dalam rangka mencari pikiran-pikiran untuk mem-pressure muktamar. "Kita berusaha agar hasil Mubes dapat masuk dalam pembahasan di muktamar," ujarnya, Kamis (4/11/2004).Selain itu, mereka juga akan menanyakan asal muasal dana yang diperoleh oleh PBNU untuk mendanai muktamar tersebut. Dalam pandangan NU CC, sudah terjadi sesuatu yang tidak beres mengenai pendanaan tersebut. Karena itulah mereka akan 'melawannya' dengan membuat semacam posko pengumpulan logistik untuk menyuplai kebutuhan dapur para muktamirin."Untuk memudahkan koordinasi, kami sudah menyewa sebuah rumah penduduk di dekat Asrama Haji Donohudan (lokasi muktamar -red). Kami akan mengumpulkan partisipasi warga dalam bentuk bahan-bahan makanan seperti kelapa, singkong, beras dan lain-lainnya lalu diserahkan kepada panitia muktamar," papar aktivis muda yang akrab dipanggil Gus Jazuli itu."Jika bantuan itu ditolak maka akan kita kembalikan lagi kepada warga sembari menanyakan kepada panitia tentang asal dana penyelenggaraan muktamar yang dalam proposalnya mencapai Rp 10 miliar. Itu masih akan disusul dengan aksi lainnya terutama tentang upaya politisasi NU yang terus dilakukan sejumlah elit NU," lanjut menantu Mbah Liem teRsebut.Terpisah, Wakil Ketua Bidang Teknis Panitia Muktamar KH Mubin Shoimuri mengaku persiapan teknis penyelenggaraan muktamar telah mencapai 75 persen. Namun dia mengatakan dana yang tersedia 'hanya' Rp 5 - 6 miliar, yang keseluruhan dihimpun PBNU selaku panitia nasional. Dikatakannya, dana itu untuk membiayai seluruh penyelenggaran muktamar yang diikuti 3.150 peserta."Dana itu terpenuhi dari bantuan pemerintah, sumbangan dan sponsor yang sepenuhnya dikelola oleh PB NU. Panitia lokal cuma melaksanakannya, misalnya karena asrama haji tidak mampu menampung seluruh peserta maka kami terpaksa menyewa rumah penduduk, mencarikan hotel bagi tamu asing, serta menyediakan konsumsi bagi peserta," ujar Ketua PC NU Solo tersebut."Untuk penyediakan konsumsi peserta, panitia memutuskan untuk menunjuk Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Dari dua pengelola restoran yang mengajukan penawaran, akhirnya dipilih Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo setelah dilakukan presentasi secara terbuka di PWNU. Jadi semuanya transparan," lanjutnya.Tentu saja, jawaban itu tidak cukup memuaskan bagi penggagas NU CC yang sejak pilpres putaran pertama telah mengibarkan bendera 'berseberangan' dengan kubu Hasyim Muzadi yang dianggap mempolitisir NU. "Kami akan terus berkonsolidasi. Selain menginginkan NU kembali pada rel perjuangannya, kami juga ingin memberitahu bahwa muktamar kali ini tidak steril," sergah Gus Jazuli.
(asy/)











































