Sidang Fahmi Vs Akbar
Saksi: Golkar Dulu Tidak Main Pecat
Kamis, 04 Nov 2004 13:09 WIB
Jakarta - Sesepuh Partai Golkar Jawa Timur Ahmad Mustahid Astari menyayangkan pemecatan terhadap Fahmi Idris dan Marzuki Darusman. Menurut Mustahid, keputusan tergesa-gesa itu tidak sesuai dengan filosofi Partai Golkar."Selama 40 tahun saya di Golkar, baru kali ini satu-satunya terjadi pemecatan di tubuh Golkar. Kalau dulu apapun masalah internal masih bisa diselesaikan," kata Mustahid.Pernyataan Mustahid ini disampaikan selaku saksi dalam sidang gugatan Fahmi Idris-Marzuki Darusaman terhadap Akbar Tandjung dan Partai Golkar di PN jakarta Barat, Jl. S. Parman, Kamis (4/11/2004). Sidang dipimpin Hakim Ketua Robinson Tarigan."Pemecatan itu tidak sesuai dengan dasar-dasar filosofi di tubuh Golkar. Alasan ketergesa-gesaan pemecatan itulah yang menjadi pertanyaan sangat besar. Karena secara prinsipal, hal ini tidak pernah dilakukan sejak Golkar jaman dulu," lanjut dia.Mustahid juga mengatakan, secara implisit, Partai Golkar Jawa Timur ada menilai bahwa pemerintahan Mega adalah sebuah kegagalan. Ia juga membenarkan adanya suntikan dana bagi Partai Golkar apabila memenangkan Mega pada pilpres kedua lalu."Saya dengar informasi bahwa 700 kecamatan di Jawa Timur mendapat dana masing-masing Rp 500 Ribu. Kemudian untuk DPD tingkat II mendapat Rp 50 Juta dan untuk DPD tingkat I mendapat Rp 100 juta," ungkap Mustahid.Dana yang diduga berasal dari tim kampanye Mega-Hasyim itu berbeda dengan pencalonan Wiranto-Wahid pada pilpres pertama. Saat itu untuk kampanye, Partai Golkar tidak mendapat dana. "Sampai-sampai uang bensin maupun oli kita keluarkan sendiri," demikian Ahmad Mustahid Astari.
(fab/)











































