Saat didatangi detikcom, Senin (16/9/2013), museum yang berdiri di lahan seluas 3.800 meter persegi itu tampak sepi. Menurut pengelola, suasana ramai baru terlihat ketika ada kunjungan sekolah atau akhir pekan.
Di dalam museum, ada 5.611 koleksi benda pusaka yang dipajang di dua lantai. Areanya dibagi menjadi berbagai macam, seperti area introduksi, dapur pusaka, pamor pusaka dan warangka (penutup pusaka).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum ada pernah ada pencurian," kata pengelola museum, Juwarno.
Keris Surakarta adalah salah satu pusaka yang diletakkan di lemari lebih kecil. Bagian selutnya (bagian bawah bilah keris yang berbentuk bulat) terbuat dari emas. Sedangkan mendak (penutup selut) terbuat dari emas dan batu permata.
Pusaka lain yang berasal dari Bali yakni keris atau kedutan di bagian hulu (bawah keris) dilapisi emas dan batu permata, bagian mendak terbuat dari emas berbentuk cincin. Sedangkan untuk warangka atau sarung pusaka, kebanyakan hanya dilapisi emas.
Pusaka lainnya yaitu keris dari Madura juga terbuat dari bahan kuningan berlapis emas. Sedangkan jenis pedang dari kerabat keraton Yogyakarta, warangkanya terbuat dari kuningan yang disepuh perak.
Juwarno menjadi pengelola museum ini sejak dua tahun lalu. Selama ini, penjagaan ketat selalu dilakukan di museum itu.
"Karena saya menekankan pada petugas keamanan supaya terus menjaga koleksi di sini. Koleksi di sini kan untuk generasi muda nantinya, mereka tidak cuma hanya mendengar cerita dari orang lain tapi juga melihat langsung bentuknya," kata Juwarno.
Sistem keamanan di museum ini mengandalkan sejumlah sekuriti yang dibagi menjadi dua shift. Namun sayangnya tak ada CCTV atau alarm di gedung tersebut.
"Nggak ada, sekuriti hanya memantau aja dari bawah. Misal ada pengunjung yang bawa apa gitu ya misalnya, tetap dipantau," terangnya.
Sekadar diketahui, di Museum Gajah atau Nasional ada banyak CCTV. Namun di area artefak yang hilang, saat kejadian CCTV-nya mati. Alarm pun tak berfungsi.
(mad/nwk)










































