Siapa di Balik Teror Penembakan Polisi?

Siapa di Balik Teror Penembakan Polisi?

- detikNews
Senin, 16 Sep 2013 12:34 WIB
Siapa di Balik Teror Penembakan Polisi?
Jakarta - Belum juga pelaku penembakan 4 anggota polisi yang meneror akhir-akhir ini tertangkap, publik kembali dikejutkan dengan aksi serupa. Aipda Anumerta Sukardi tewas dengan empat luka tembak setelah diterjang timah panas pada Selasa, 10 September 2013 pukul 22.15 WIB lalu.

Aksi penembakan itu terjadi tepat di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu, Sukardi tengah mengawal 6 unit truk bermuatan elevator part dari Plumpang, Tanjung Priok, Jakarta Utara ke tujuan di Rasuna Tower, Jakarta Selatan. Sebelum ditembak, Sukardi dihadang oleh 3 pelaku dengan menggunakan dua unit motor. Dua pelaku kemudian turun dari atas motor dan menembak anggota Hartib Provost Ditpolair Baharkam Mabes Polri itu.

"Pelaku menggunakan dua motor. Yang satu (motor) ditumpangi dua orang dan satu (motor) lagi satu orang. Pelaku berjaket merah," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, Senin (16/9/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai menembak Sukardi, salah satu pelaku mengambil senjata api dinas milik Sukardi, jenis Cops. Sukardi pun tewas dengan 4 (empat) kali tembakan yang mengenai dada, perut, bahu dan lengan kirinya.

Sejumlah saksi, yakni 11 orang sopir dan kernet truk yang dikawal Suakrdi, sekuriti kantor KPK, dan beberapa orang lainnya telah dimintai keterangan terkait aksi sadis itu. "Untuk saksi masih kita kembangkan, terutama saksi sekuriti KPK sangat diharapkan keterangannya karena dia mendengar dan melihat kejadian tersebut. Ini masih proses dimintai keterangan," kata Rikwanto.

Berdasarkan keterangan para saksi itu, polisi belum mendapatkan gambaran profil si pelaku. Bahkan, dari rekaman CCTV yang terdapat di gedung KPK pun, pelaku penembakan tidak dapat tergambarkan dengan jelas.

"Belum tergambar tinggi badan, nanti akan dipadukan dengan saksi terdekat yang dengar dan lihat kejadian," imbuhnya.

Sementara dari hasil olah TKP, polisi menemukan 3 buah selongsong peluru. Satu selongsong peluru lainnya masih dicari. Sementara hasil visum korban, ditemukan 3 butir anak peluru yang bersarang di tubuh korban.

Polisi juga telah mempelajari rute pengawalan Sukardi, mulai dari Jalan Yos Sudarso, Plumpang, Jakut-Jalan Pramuka, Matraman, Jaktim-Pasar Raya Manggarai, Jaksel-Pasar Rumput, Jaksel lalu belok kiri menuju ke jalur lambat Jalan HR Rasuna Said, Kuningan. Namun, tidak ada keganjilan di sepanjang rute perjalanan Sukardi mengawal 6 truk tersebut.

Sebelum insiden penembakan terhadap Sukardi terjadi, selama Juli hingga Agustus 2013 lalu, empat orang polisi tewas ditembak orang tidak dikenal. Teror penembakan pertama menimpa Aipda Patah Saktiyono, di depan Masjid Al-Ikhsan, Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (27/7/2013). Patah selamat dari aksi penembakan itu, meski sebutir peluru menerjang punggung hingga tembus ke dadanya.

Sepekan lebih pascapenembakan Patah, peneror juga menembak mati Aiptu Dwiyatno di depan RS Asih, Tangerang Selatan pada tanggal 7 Agustus 2013 subuh. Anggota Binmas Polsek Clandak itu tewas dengan luka tembak di bagian kepala.

Teror penembakan berlanjut dan menewaskan 2 anggota polisi, Ipda (Anumerta) Kushendratna dan Aipda (Anumerta) Amad Maulana. Keduanya tewas dalam baku tembak dengan pelaku penembakan di depan Masjjid Bani Umar, Jalan Graha Raya Bintaro, Kelurahan Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat (16/8/2013).

Belum Ada Benang Merah

Kepolisian menyatakan bahwa kasus penembakan terhadap Sukardi, berbeda dengan 3 kasus penembakan yang menewaskan 4 polisi sebelumnya. Penyidik belum melihat ada benang merah antara kasus penembakan Sukardi dengan kasus penembakan polisi terdahulu.

"Sampai saat ini belum ada benang merahnya. Motifnya berbeda dengan yang sebelumnya," ujar Rikwanto.

Berbeda dengan aksi penembakan 4 polisi sebelumnya yang ditengarai dilakukan jaringan terorisme, penembakan Sukardi belum diketahui pasti motifnya. Polisi menganalisa beberapa kemungkinan motif penembakan, dengan mempelajari profil Sukardi. Mulai dari sisi kedinasannya hingga ke permasalahan pribadi Sukardi.

"Dia tidak ada masalah di kehidupan pribadinya. Tidak ada motif masalah pribadi," ucap Rikwanto.

Dari hasil penyelidikan forensik terhadap selongsong peluru yang ditemukan di 4 kasus penembakan polisi itu terdapat perbedaan. Di kasus penembakan 4 polisi sebelumnya yang terjadi di kawasan Tangerang Selatan, polisi menemukan selongsong dan peluru kaliber 9 milimeter. Dari hasil uji balistik, diketahui bahwa senjata api yang digunakan pelaku penembakan adalah jenis pistol rakitan.

Pihak kepolisian sendiri telah merilis pelaku penembakan Kushendratna dan Maulana yakni Nurul Haq dan Hendi Albar yang diketahui memiliki jaringan dengan kelompok teroris. Nurul Haq dan Hendi sampai saat ini belum tertangkap. Polisi bahkan telah menangkap sejumlah orang yang diduga menyuplai senjata api rakitan kepada jaringan teroris. Dipastikan, jaringan teroris yang terkait dengan aksi penembakan polisi itu, menggunakan senjata api rakitan hasil modifikasi buatan Cipacing.

"Sangat ada kaitannya dengan kasus penembakan yang terjadi di 3 tempat (penembakan anggota Polri) kemarin. Senjata kemarin adalah senjata modifikasi rakitan dan pabrikan, ternyata hasil operasi ini ada senjata api hasil modifikasi dan sudah ada menyebut nama pelaku kemarin mendapat senjata itu dari Cipacing," urai Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Slamet Riyanto dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (6/9/2013) lalu.

Semnetara dari hasil uji balistik terhadap selongsong dan anak peluru yang ditemukan di lokasi penembakan Skardi, berasal dari pistol kaliber 45 mm. "Pistol yang digunakan adalah pabrikan," ujar sumber kepada detikcom.

Pembunuhan Berencana

Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan terkait penembakan Skardi ini, polisi belum bisa menyimpulkan bahwa aksi penembakan itu dilakukan oeh kelompok teroris. Pihak kepolisian menyebut bahwa aksi penembakan terhadap Sukardi, adalah kriminal murni.

"Ini adalah pembunuhan berencana yang disertai dengan perampasan, karena ada barang korban yang hilang yakni senjata api milik korban," ujar Rikwanto.

Terhadap pelaku, kata dia, polisi dapat mempersangkakan dengan Pasal 340 KUHP jo 338 KUHP jo Pasal 365 KUHP.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Slamet Riyanto mengatakan, pelaku penembakan Sukardi sudah merencanakan aksi itu. Diduga kuat, pelaku sudah mempelajari kegiatan korban sehari-harinya.

"Pelaku diduga sudah memetakan aksi ini. Dia sudah mensurvey kegiatan korban sebelumnya, sehingga pelaku tahu kapan jam-jam rawannya," ucap Slamet.

Mengacaukan Pemilu?

Slamet mengatakan, pihaknya belum bisa menarik kesimpulan tentang motif penembakan terhadap Sukardi. Berbagai analisa diuji untuk mengetahui motif penembakan, namun lagi-lagi tidak teruji.

"Bicara motif, pastinya akan teurngkap manakala pelakunya tertangkap," ujar Slamet.

Sementara saat ditanya apakah teror penembakan terhadap anggota polisi yang terjadi selama ini dilakukan untuk mengacaukan situasi keamanan menjelang pemilu, Slamet mengatakan "Kita belum bisa menyimpulkan ke arah situ".

Slamet sendiri mengakui pihaknya kesulitan dalam memecahkan kasus tersebut. Pasalnya, bukti-bukti seperti rekaman CCTV yang mengarah kepada pelaku penembakan Sukardi, tidak cukup jelas.

"Kita masih melacak dari CCTV. Lagi dianalisa dulu. Gambar itu belum jelas, harus diedit-edit lagi," kata Slamet.

(mei/rmd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads