2 Jenazah Korban Rusuh Donggala Diserahkan, Warga Histeris

2 Jenazah Korban Rusuh Donggala Diserahkan, Warga Histeris

- detikNews
Kamis, 04 Nov 2004 11:05 WIB
Donggala - Dua jenazah warga korban kerusuhan di Desa Sidondo I, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) diserahkan polisi kepada keluarganya. Kedatangan dua jenazah disambut histeris massa. Bahkan, ada 3 perempuan yang langsung pingsan. Rusuh di Desa Sidondo I ini pecah pada Rabu (3/11/2004) kemarin. Dalam rusuh antara dua etnis, yaitu suku Kaile (penduduk asli) dengan suku Bugis (pendatang), dua polisi mengalami luka bacok, sementara dua warga tewas diterjang peluru timas panas. Dua warga ini bernama Asdar dan Asdin. Jenazah Asdar dan Asdin telah diotopsi di RS Bhayangkara Polda Sulteng dan selesai pada Rabu malam. Setelah diotopsi, dua jenazah sebenarnya akan langsung diserahkan kepada keluarganya. Namun, saat membawa dua jenazah itu dengan mobil ambulans ke Desa Sidondo I, di tengah jalan, polisi membatalkannya. Akhirnya, jenazah disimpan terlebih dulu di Mapolsek Dolo, sekitar 7 km dari Desa Sidondo I. Pembatalan pengiriman jenazah itu, setelah melihat situasi yang tidak menguntungkan dan bisa memancing reaksi massa. Akhirnya, dua jenazah itu baru bisa diserahkan kepada keluarganya pada Kamis (4/11/2004) pukul 11.00 WITA. Saat dibawa ke rumah duka, dua jenazah itu dikawal oleh pasukan Brimob yang berseragam tempur. Rumah Asdin dan Asdar tidak terpaut jauh. Rumah mereka juga hanya sekitar 200 meter dari TKP kerusuhan, yaitu di dekat kantor Balai Benih Pangan, Sidondo I. Saat kedua jenazah tiba di rumah masing-masing, warga langsung menyambut dengan histeris. Mereka merangsek ke jenazah dan langsung memaki-maki polisi. "Polisi biadab. Darah harus dibalas dengan darah. Polisi tidak adil," teriak warga saat berdatangan ke rumah Asdar. Tiga perempuan keluar Asdar juga mendadak pingsan. Asdar sendiri merupakan seorang duda. Hal yang sama juga terjadi rumah Asdin. Istri Asdin, Awalina, meminta agar penembakan terhadap suaminya diusut. "Saya meminta keadilan," kata Awalina sambil menangis histeris sambil menggendong anaknya itu. Asdin meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Anak tertuanya berumur 7 tahun. Warga juga sempat marah saat mereka melihat jenazah Asdar dan Asdin, terbelah dadanya. Mereka menuding polisi menganiaya dua orang itu. Namun polisi menjelaskan bahwa dibelahnya kedua dada jenazah itu untuk keperluan otopsi. Pantauan detikcom, sampai saat ini masih disiagakan 2 SSK pasukan Dalmas dari Polresta Palu dan Polda Sulteng di TKP. Sementara aparat Brimob yang mengawal dua jenazah itu sudah kembali ke Mapolsek Dolo. Sementara itu, Kepala Desa Sidondo I Abbas Rahman menyatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada aparat kepolisian. Tapi, Abbad Rahman tetap meminta agar jenazah Supri, warga yang hilang dan diduga dibunuh sebelumnya, dikembalikan kepada pihak keluarga. "Saya tidak mampu menjaga massa bila melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan," tegasnya. Kapolda Sulteng Brigjen Pol Aryanto Sutadi dan Dandim Donggala Letkol Irman Simatupang juga sudah bertemu massa untuk mencari penyelesaian rusuh ini. Kapolda juga telah meminta massa tidak melakukan hal-hal yang bisa memperburuk situasi. Sementara siang ini, Kapolda masih melakukan pertemuan di Mapolda Suteng dengan tokoh-tokoh masyarakat.Sampai saat ini, juga belum diperoleh konfirmasi apakah penembakan itu dilakukan polisi atau warga. Tapi, warga sudah terlanjur curiga, karena yang menggotong jenazah Asdar dan Asdin adalah polisi dan sebelumnya polisi sempat mengejar keduanya ke arah pesawahan. (asy/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini