Enam tahun lalu dalam perjalanan Mekkah menuju Madinah bersama Abudullah Gymnastiar, hati Eka Shanty mendadak gundah. Musababnya, kondisi umat muslim di tanah air yang menurut dia sangat memprihatinkan.
Kemiskinan, korupsi, perselisihan pendapat, dan banyak perempuan mengumbar aurat di muka umum. Kondisi itu lah yang membuat hati mantan jurnalis itu galau. Maklum Indonesia adalah salah satu negara muslim terbesar di dunia.
Eka lantas menulis surat kepada Rasulullah Muhammad di salah satu lembaran di sebuah Alquran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di akhir catatan itu, Eka menuliskan namanya. "Itu surat yang ditulis tahun 2008 dan saya sudah menuliskan 'Salam rinduku, Muslimah Eka Shanty'. Tapi tidak pernah terpikir bahwa itu akan menjadi bibit lahirnya World Muslimah," kata Eka kepada detikcom, Kamis (12/9) di Menteng, Jakarta Pusat.
Perenungannya di tanah suci saat itu ternyata menjadi bibit penting suatu gerakan kemanusiaan yang ia bentuk lewat World Muslimah Foundation. Sejak 2011 dia menggelar kegiatan tahunan pemilihan World Muslimah.
Pada dua tahun pertama, misi keberadaan mereka lebih sekadar hanya untuk mempromosikan fashion dan gaya hidup muslim. Tapi tahun ini, malam final yang menampilkan 20 kontestan akan lebih diarahkan untuk misi penggalangan dana, untuk membantu muslimah di negara yang tengah dilanda krisis.
World Muslimah akan menampilkan muslimah berprestasi dari enam, Rohingya, Somalia, Palestina, Pakistan, Mesir, Suriah, dan Indonesia
Pada awal diadakan tahun 2011, event ini hanya berskala nasional yang disebut dengan Muslimah Beauty. Tahun berikutnya 2012 menjadi World Muslimah Beauty. Tahun ini kata 'beauty' dihilangkan.
"Kami hilangkan kata beauty karena yang kita sorot adalah bagaimana para peserta ini melakukan yang terbaik untuk sesama," kata Eka. Panitia juga tak mewajibkan peserta Miss World Muslimah berpenampilan menarik, dengan tinggi badan tertentu.
Salah satu syaratnya adalah beragama Islam, berhijab, pandai mengaji serta bersedia melakukan perjalanan kemanusiaan ke berbagai Negara.
Gaung pelaksanaan World Muslimah memang tidak terdengar sekuat Miss World. Namun banyak orang yang mulai membanding-bandingkan kedua ajang tersebut. World Muslimah dinilai menjadi tempat berekspresi bagi kalangan berhijab yang tidak bisa ikut ajang ratu sejagat tersebut.
"Sebenarnya ini bukan untuk miss universe atau Miss World, ini adalah keprihatinan karena setiap di televisi ada tayangan yang mempertontonkan aurat,โ kata Eka.
Menurut Eka, anggapan bahwa World Muslimah menjadi tandingan dari Miss World merupakan jawaban kegundahannya. Dia berharap makin banyak kawula muslimah yang terinspirasi dan semakin percaya diri menunjukkan eksistensi serta kualitas.
Gerakan yang dimulai dari rumah melalui situs jejaring sosial Facebook itu kini semakin besar, dan mendapat penghargaan sebagai media komunikasi dakwah efektif di era digital.
Ibu dua anak itu melanjutkan, kini perwakilan WMF sudah ada di lima negara. Peminatnya pun dari tahun ke tahun kian bertambah. Tahun ini pihaknya mendapat lebih dari 550 aplikasi pendaftaran dari 11 negara termasuk Jerman, Amerika Serikat, Australia.
"Dalam tiga tahun ke depan, WMF tidak akan digelar di Indonesia lagi, tetapi di beberapa negara yang sudah mengajukan diri sebagai tuan rumah," tuturnya.
(erd/erd)











































