80 Persen Orang Gila di Aceh Akibat Trauma Konflik

80 Persen Orang Gila di Aceh Akibat Trauma Konflik

- detikNews
Rabu, 03 Nov 2004 23:04 WIB
Banda Aceh - Berkecamuknya konflik bersenjata di Aceh, meninggalkan banyak trauma buat orang Aceh. Akibatnya, dari 51,1 persen orang sakit jiwa di Aceh, sekitar 80 persen diantaranya mengalami gangguan jiwa karena trauma akibat sejumlah kekerasan yang terjadi di depan matanya. “Penderita umumnya mengalami trauma biasanya setelah melihat langsung penembakan dan pembunuhan di depan matanya sendiri. Hal ini Berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan Provinsi Nagnroe Aceh Darussalam,” jelas Kepala Dinas Kesehatan NAD dr. Mulya A Hasjimi kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (3/11/2004).Ditambahkan Mulya, sebanyak 25,7 persen mengalami depresi, 18,4 persen menderita panik, 16 persen akibat mengkomsumsi zat psykoaktif, hanya 7,7 persen mengalami gangguan stres, selebihnya 1,3 persen lagi akibat ketergantungan terhadap alkohol dan obat-obatan.Para penderita gangguan kejiwaan ini paling banyak berada di kawasan timur Aceh, mulai dari Kabupaten Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur serta Kota Langsa, yang umumnya memiliki gejolak konflik bersenjata cukup tinggi. Dia juga menambahkan, Banda Aceh sebagai ibukota provinsi, juga memiliki angka yang cukup besar bagi penderita sakit jiwa ini, bahkan cenderung memiliki presentase paling besar.Data ini didapat, setelah Dinas Kesehatan NAD melakukan survei di 11 kabupaten/kota di NAD. “Survei dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap 12 pasien yang berobat di Puskesmas Kuta Alam dan Puskesmas Darussalam Banda Aceh ternyata 11 pasien itu mengalami gangguan mental, dengan angka persentase mencapai 91 persen,” terangnya lebih lanjut sembari menambahkan, survei tersebut dilakukan pada setiap kabupaten dengan mengambil sample di dua Kecamatan yang memiliki Puskesmas definitif.Latih UlamaUntuk menanggulangi hal ini, Dinas Kesehatan NAD dikatakan Mulya telah melatih para medis, tokoh masyarakat dan juga para ulama. “Untuk mendeteksi secara dini para korban itu. Selain itu, kita juga akan melakukan konseling terhadap warga yang mengalami gangguan kejiwaan,” katanya.Dari 242 Puskesmas yang ada di NAD, sebanyak 20 puskesmas telah diberikan ketrampilan penanganan gangguan kejiwaan, dengan melibatkan seorang dokter dan dua orang perawat dibantu seorang tokoh agama, satu tokoh masyarakat serta tokoh wanita. “Kami juga telah memberikan pelatihan terhadap guru sekolah untuk mengenal secara dini, gangguan kejiwaan pada anak didik,” demikian Mulya. (mar/)


Berita Terkait