"Jangan asal maen ganti name aje, itu tuh ade sejarahnye nama jalannye tuh. Jadi zaman dulu itu Gambir tuh lapangan, nah di sono pernah ada pidato Bung Karno 5 menit tentang kemerdekaan. Makanya jadi jalan Medan Merdeka," ujar Ridwan Saidi saat Dialog Kenegaraan di DPD RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (11/9/2013).
Ridwan menceritakan bahwa kata 'medan' digunakan karena pers pada masa itu banyak disi oleh orang Sumatera. Itulah sebabnya ruas jalan tersebut dinamakan Medan Merdeka agar semangat kemerdekaan terus dikobarkan.
"Urusan anda apa mau ganti-ganti nama jalan? Menghargai pahlawan kagak harus jadiin nama jalan," tutur Ridwan kepada AM Fatwa dengan logat betawinya yang kental.
Anggota Panitia 17 yang hadir dalam diskusi tersebut, AM Fatwa, kemudian membalas pernyataan Ridwan. "Panitia 17 mengusulkan nama Jl. Bung Karno dan Jl. Bung Hatta karena mereka merupakan proklamator, kalau soal nama Soeharto, kenapa sih kita belum memaafkan beliau?"
"Ente pendatang kagak usah ganti-ganti nama jalan dah, kagak usah acak-acak kota saya," tandas Ridwan Saidi kemudian.
Dialog tersebut kemudian menjadi perdebatan yang tidak kunjung usai. Layaknya menonton lenong, para hadirin justru menertawakan perdebatan mereka.
Usai dialog, AM Fatwa menegaskan bahwa Panitia 17 masih menunggu momen yang tepat untuk melontarkan usulannya kembali.
"Ya kita lihat situasi lah nantinya bagaimana, yang jelas kami tetap mempertahankan usulan kami ini," katanya.
(bag/van)











































