Pri-Nonpri, RI Lebih Baik dari Belanda

Pri-Nonpri, RI Lebih Baik dari Belanda

- detikNews
Rabu, 03 Nov 2004 17:26 WIB
Den Haag - Meskipun Belanda kadang sok menggurui soal HAM, tapi dalam hal toleransi dan perlindungan minoritas Belanda pantas malu sebagai pendekar HAM.Sejak kemunculan politikus Pim Fortuyn, Belanda mengalami perubahan haluan yang kemungkinan sulit untuk dibalikkan lagi. Negeri yang konon toleran dan menjunjung tinggi HAM tersebut kini telah berubah total.Fortuyn, yang membentuk partai LPF, telah menggeser perpolitikan Belanda yang santun dan beradab menjadi vulgar dan kasar, dengan menjadikan warga negara minoritas sebagai obyek eksploitasi politiknya. 'Ajarannya' yang populer dan diikuti sebagian masyarakat Belanda adalah, "Kita bebas mengatakan apa yang ada di benak." Tapi, moncong senapan politik -sebut saja- Fortuynisme ini hanya menunjuk ke satu arah: allochtonen (non-pri).Soal isu pri dan nonpri mulai semakin tajam digarap, yang mengkristal dan mengarah pada etnik Maroko dan Turki dengan latar belakang agamanya yang Islam. Mula-mula menyoal keamanan, pengangguran, jilbab, masjid yang terus bertambah, dan soal Islam sebagai kultur terbelakang hingga tidak cocok di Belanda. Busana muslim dan jilbab dinilai merusak pemandangan, tidak sesuai dengan budaya Belanda dan mulai gencar dipersoalkan. Dari situ melebar menjadi kampanye isu integrasi. Jika nonpri minoritas itu ingin hidup di Belanda, maka mereka harus meninggalkan budayanya dan beralih ke budaya Belanda. Pada titik ini sudah mulai muncul aksi-reaksi di masyarakat. Belanda pelan tapi pasti telah berubah haluan menuju kultur yang keras dan intoleran, meskipun para pemimpinnya tetap mengklaim sebagai negara yang toleran dan demokratis. Hingga pada 6/5/2002 Fortuyn ditemukan mati ditembak di halaman pusat radio dan televisi di Hilversum. Orang bersyukur lega ketika pembunuhnya diketahui asli autochtoon (pri), yakni Volkert van der Graaf, seorang aktifis lingkungan yang merasa tidak tahan mendengar kampanye agresif Fortuyn. Seandainya pembunuhnya adalah dari kalangan minoritas, dikhawatirkan bisa pecah kerusuhan rasial berskala besar, atau mengutip istilah yang dipakai media Belanda: burgeroorlog (perang sipil). Soalnya, Fortuyn di mata mereka adalah pemimpin besar dan dijadikan tumpuan harapan.Fortuyn telah tiada, tapi gaya politiknya yang kasar dan mengeksploitasi minoritas terus hidup dan ditiru para politisi muda. Wajah bijak Wim Kok, Ruud Lubbers, dan politisi senior lainnya telah menjadi sejarah, tersingkir oleh wajah-wajah muda yang bergaya kasar dan blak-blakan.Muncullah Joost Eerdmans (LPF), Geert Wilders (VVD, kini telah keluar karena berselisih dengan pimpinan partai soal isu Turki-Uni Eropa), lalu naiklah nama Ayaan Hirsi Ali, wanita bekas pengungsi Somalia yang meroket dan menjadi politikus berkat menjual 'isu-isu kedudukan wanita dalam Islam', yang menurut para kritisi sejatinya ia mengeksploitasi kedudukan wanita dalam kultur Somalia. Kemudian dari kalangan non partai muncul Theo van Gogh, seorang kolumnis dan sineas.Dua tahun terakhir kelompok nonpri dan agamanya secara intens menjadi bulan-bulanan di Belanda. Pelan tapi pasti, mereka akhirnya masuk ke wilayah yang sangat sensitif, yakni mempemainkan nabi dan Tuhannya minoritas Islam, melalui pernyataan lisan, kolom-kolom di media, dan klimaksnya adalah yang dilakukan Van Gogh berkolaborasi dengan Hirsi Ali, dengan membuat film Submission. Situasi sudah terasa menghangat ketika film, yang menurut Hirsi Ali menunjukkan penindasan wanita dalam Islam, itu di tayangkan di televisi. Fragmen film itu antara lain menunjukkan wanita sedang shalat (bacaannya keras) dengan memakai pakaian transparan sehingga tak ada bedanya dengan telanjang, lalu diperlihatkan tubuhnya yang ditulisi ayat-ayat Al-Quran.Pepatah Belanda mengatakan bahwa kucing yang terdesak bisa membuat lompatan yang tak terduga. Dan akhirnya terjadilah. Van Gogh dibunuh oleh pemuda Maroko, yang menurut pernyataan Mendagri Belanda tindakannya dilatari keyakinan agamanya.Inilah situasi dan wajah Belanda kini. Rakyat Indonesia layak bersyukur dan patut mempertahankan hubungan baik dan saling menghormati antarpenganut agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Dalam hal ini Indonesia jauh lebih baik daripada Belanda, antara lain tidak ada yang saling mempersoalkan cara berpakaian dan ciri-ciri kebudayaan yang justru memperkaya kebudayaan nasional Indonesia. Sementara politisi dan pers Belanda terus mengeksploitasi soal pri dan nonpri, politisi dan pers Indonesia sudah lama mengubur dua teks itu. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads