Bila Kerry Menang, Aksi Anti-AS di RI Bisa Berkurang
Rabu, 03 Nov 2004 17:23 WIB
Jakarta - Siapa pemenang pemilihan presiden AS? Untuk sementara Bush masih mengungguli Kerry. Bila Bush menang, maka sikap anti AS di Indonesia bisa saja makin besar. Namun, bila Kerry menang, sikap anti AS di Indonesia bisa berkurang. "Bila Kerry yang dicalonkan dari Partai Demokrat menjadi presiden, diharapkan warga Indonesia memiliki pemikiran yang terbuka dalam menghadapi AS. Sehingga, masyarakat yang anti terhadap AS dapat lebih bijak dalam bersikap," kata pengamat politik internasional Riza Sihbudi saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (3/11/2004). Menurut Riza, Kerry lebih menguntungkan bagi Indonesia dibanding Bush. Bila Bush menang, tidak akan memberikan dampak positif bagi Indonesia. Salah satu penyebabnya, pemerintahan Bush selama ini bersifat diktator dan melihat masalah perdamaian, sebagai masalah yang tidak penting. "Tapi, bila Kerry yang menang, masih ada harapan dia dapat menyelesaikan konflik yang ditimbulkan selama Bush memerintah, sehingga juga akan memberikan keuntungan bagi Indonesia," ungkapnya. Selama ini, kata Riza, pemerintah Indonesia lebih bisa bekerja sama dengan presiden AS yang berasal dari Partai Demokrat, dibanding presiden yang berasal dari Partai Republik. Misalnya, saat pemerintahan Clinton. Saat Soeharto masih memerintah, pemerintah AS pimpinan Clinton ikut bekerja sama dalam usaha penyelesaian konflik-konflik daerah rawan yang terjadi di Indonesia, seperti konflik di Aceh."Partai demokrat umumnya mengutamakan Hak-hak Asasi Manusia sehingga kepercayaan dunia yang cinta perdamaian lebih diuntungkan, jika Kerry yang keluar sebagai pemenang," kata Riza.
(asy/)











































