Belanda Dibayangi Bentrok Pri-Nonpri
Rabu, 03 Nov 2004 17:19 WIB
Den Haag - Pembunuh sineas Belanda peleceh Islam, Theo van Gogh, diketahui allochtoon (non-pri) berdarah Marokko. Dikhawatirkan ada reaksi keras dari kelompok autochtoon (pri).Kepala kejaksaan Amsterdam, Leo de Wit, mengungkapkan pelaku pembunuhan Van Gogh tersebut dalam konferensi pers Selasa (2/11/2004) sore waktu setempat. "Pelakunya pria berusia 26 tahun, memiliki kewarganegaraan ganda Marokko dan Belanda," kata De Witt.Namun De Wit belum bersedia menyingkap lebih jauh mengenai motif pembunuhan sineas dan kolumnis, yang karya-karyanya secara teratur melecehkan Islam dan memprovokasi pemeluknya itu, termasuk apa isi surat yang menempel pada pisau yang ditancapkan di dada Van Gogh.Sementara itu temperatur sosial politik di Belanda pun mulai ikut naik. Siaran-siaran langsung yang mewawancarai masyarakat umum setempat dari berbagai wilayah menunjukkan ketidakpuasan mereka. Seorang tokoh masyarakat Belanda kepada NOS mengungkapkan kemungkinan reaksi keras dari pihak pri Belanda atas pembunuhan Van Gogh. "Tidak menutup kemungkinan akan muncul reaksi keras, reaksi fisik, dari pihak lain, yakni dari pihak kita," katanya.Kemungkinan itu juga mulai disadari Organisasi Ikatan Kerjasama Maroko-Tunesia (SMT). Mereka mengkhawatirkan kemungkinan balas dendam menyusul terbunuhnya Van Gogh, apalagi hubungan minoritas non pri seperti mereka dengan mayoritas pri Belanda sudah cukup tegang sejak adanya kampanye anti teroris.Di stasiun kereta Centraal Station, Den Haag, sekumpulan massa pribumi Belanda kemarin malam sudah beraksi turun ke jalan dan meneriakkan yel-yel anti minoritas. Polisi menangkap 29 orang dalam aksi itu dan 6 orang lainnya di tempat lain di kota yang berjarak 70 km dari Amsterdam itu.Menteri Integrasi Rita Verdonk tanggap dengan ancaman eskalasi. Kemarin malam dia langsung menggelar rapat darurat dengan organisasi-organisasi masyarakat muslim di bawah payung Musyawarah Nasional Minoritas (LOM) di suatu tempat di Amsterdam. "Pilihannya adalah kebencian atau ketakutan. Cukup sampai di sini dan jangan dilanjutkan. Stop!" seru Verdonk.Verdonk juga mengkhawatirkan ancaman kekerasan terhadap komunitas muslim dan rumah-rumah ibadahnya. Dia menjanjikan bahwa kabinet akan meminta pemda-pemda untuk memberikan perlindungan kepada kaum minoritas muslim dan rumah-rumah ibadahnya.
(es/)











































