Dalam pertemuan, Habibie menyampaikan bahwa telah banyak ‘kisah cinta’ yang ditulis dalam sejarah manusia, seperti ‘Laila Majnun’ serta ‘Romeo dan Juliet’.
Buku ‘Habibie dan Ainun’ bukan ditulis oleh seorang penulis yang ingin bercerita, namun oleh seorang yang mengalami kedukaan mendalam dan ingin mengulang kehidupannya untuk dapat kembali bermakna kepada lingkungannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habibie menegaskan bahwa penerjemahan buku, khususnya ke dalam bahasa Mandarin, merupakan upaya mempererat hubungan Indonesia–Tiongkok.
Terlebih mengingat besarnya jumlah penduduk dari suku Tionghoa dan keturunannya di Indonesia, yang pada prinsipnya merupakan modal dasar bagi kedua negara untuk membangun dan meningkatkan hubungan antar masyarakat dan antar negara.
Dubes RI untuk RRT merangkap Mongolia, Enni Imron Cotan dalam sambutannya seperti tertulis dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (9/9/2013), memberikan apresiasi tertinggi kepada BJ Habibie atas penulisan buku ‘Habibie dan Ainun’ serta pembuatan film atas judul yang sama.
Buku tersebut dinilai menceritakan lebih dari kisah cinta dua anak manusia, yakni juga wujud kecintaan mereka kepada bangsa dan negara Indonesia.
Dubes RI berharap para kaum muda dan calon pemimpin bangsa dapat belajar dari kisah hidup dan sejarah BJ Habibie, serta dapat meneruskan perjuangan mereka untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.
Buku ‘Habibie dan Ainun’ dinyatakan telah terjual sebanyak 200 juta kopi di seluruh dunia.
Film yang diadaptasi dari buku ini juga mencapai box office di dunia perfilman Indonesia, dimana pada minggu pertamanya telah ditonton oleh lebih dari 220.000 orang.
Pertemuan masyarakat ini juga diramaikan kehadiran mantan Dubes RRT untuk Indonesia, Zhou Gang dan istrinya Madam Deng Junbing, penerjemah buku ‘Habibie dan Ainun’ ke dalam bahasa Mandarin.
Ikut hadir Ketua Dewan Direktur the Habibie Center (THC) Ahmad Watik Pratiknya, Staf Ahli THC dan kemenakan Presiden Habibie Adrie Subono, home staff dan local staff KBRI Beijing beserta keluarga, serta sekitar seratus perwakilan diaspora dan mahasiswa Indonesia
(fdn/fan)











































