Nama Tri Rismaharini meroket seiring upayanya membenahi Kota Surabaya. Risma yang dijuluki 'Super Wali' ternyata sempat menolak diusung PDIP jadi cawalkot Surabaya tahun 2010 silam.
"Saya sudah ngomong tidak mau, tapi teman-teman mendorong terus," kata Risma seperti dikutip dari Majalah Detik edisi 93 yang terbit Senin (9/9/2013).
Risma tak mau ikut Pilwakot kalau elektabilitasnya rendah. Tapi apa daya, baru survei awal saja dia sudah cukup populer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risma kemudian maju Pilwakot Surabaya berdampingan dengan Bambang DH, Wali Kota Surabaya incumbent kala itu. Keduanya diusung oleh PDIP.
"Ditolak, dihindari enggak bisa. Teman-teman sudah saya tolak tetap ngotot. Ya, sudahlah, mereka selama ini sudah bantu saya, masak saya tolak begitu saja, toh belum tentu jadi juga," katanya yang kemudian sukses menang Pilwakot Surabaya ini.
Risma pun sempat menelepon banyak kerabat meminta dukungan. "Tapi semua saya teleponin. Saya telepon guru ngaji, dia memberi dukungan. Habis itu ya sudah, saya anggap Tuhan memberikan kepercayaan ke saya. Tapi kan belum tentu jadi," kata eks Kepala Dinas Pertamanan Surabaya ini polos.
Perihal duetnya dengan Bambang DH, Risma pun tak terlalu banyak tahu. "Ya itu, teman-teman muda yang mengurusnya. Saya ndak ketemu mereka (partai politik)," ungkap Risma yang dikenal tegas membasmi prostitusi di Surabaya ini.
Kisah 'Super Wali' bisa didownload gratis di edisi terbaru Majalah Detik.
(van/nrl)











































