Pasang Laut, Diduga Jadi Penyebab Lumba-lumba yang Tersesat di Langkat

Pasang Laut, Diduga Jadi Penyebab Lumba-lumba yang Tersesat di Langkat

Khairul Ikhwan - detikNews
Sabtu, 07 Sep 2013 20:45 WIB
Pasang Laut, Diduga Jadi Penyebab Lumba-lumba yang Tersesat di Langkat
Petugas Giring Lumba-lumba ke Laut
Langkat - Penyebab tiga ekor lumba-lumba yang tersesat masuk ke Sungai Wampu di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), masih belum dipastikan. Tapi kondisi itu diduga terkait dengan pasang besar yang terjadi di laut.

Kepala Seksi Wilayah 2 Stabat, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Herbert Aritonang menyebutkan, ada dua dugaan sementara yang menyebabkan lumba-lumba itu masuk ke sungai.

โ€œPertama diburu predator, ikan hiu. Karena musim pasang, banyak ikan hiu, dan lumba-lumba menyelematkan diri hingga masuk ke muara sungai. Kedua karena mengejar kelompok ikan makanannya,โ€ kata Herbert di pinggiran Sungai Wampu di Desa Hinai Kiri, Kecamatan Secanggang, Langkat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah masuk ke sungai, kemungkinan lumba-lumba kebingungan jalan pulang karena banyaknya suara mesin. Di sepanjang sungai, selain mesin boat, ada juga mesin menambang atau penyedot pasir. Lumba-lumba menggunakan sonar untuk sistem navigasinya, suara mesin yang riuh dapat membuat daya dan fungsi sonar itu menurun.

โ€œTetapi ahlinya yang lebih tahu, apa kira-kira penyebab lumba-lumba ini tersesat,โ€ tukas Herbert.

Dalam upaya penggiringan ketiga lumba-lumba itu kembali ke laut, maka digunakan perahu karet dan kayu yang tidak menggunakan mesin. Selain itu, sepanjang 15 kilometer jalur dari lokasi lumba-lumba saat ini hingga ke laut, seluruh mesin yang ada di sungai diminta untuk dimatikan, tidak boleh menyala.

Keberadaan ribuan orang di pinggiran sungai yang menyaksikan lumba-lumba itu juga menjadi persoalan. Warga antusias datang untuk menyaksikan kejadian yang relatif langka itu.

Ikan lumba-lumba jenis mulut botol itu mulai terlihat di sungai pada Kamis (5/9), saat itu hanya satu ekor. Sehari kemudian jumlahnya bertambah menjadi tiga ekor, dan masih bertahan sampai hari ini.

(rul/rvk)


Berita Terkait