Salah satu anggota Mapala Argajaladri, Adib Fauzi (22) mengatakan ketika tiba di atas ia melihat raut depresi dari Yulianti, bahkan wanita itu sempat berdiri di ujung tower. Setelah perlahan naik, akhirnya Adib bisa mencapai puncak dan mulai melakukan negosiasi.
"Terlihat depresi, kami bercandaain dulu. Saya bilang, pemandangannya bagus ya," kata Adib usai proses evakuasi di dekat perlintasan rel Kaligawe, Kecamatan Gayamsari, Semarang, Sabtu (7/9/2013).
"Pokoknya dibuat rileks dan nyaman kenal sama kita. Sebisa mungkin dirayu, " imbuh anggota Mapala Argajaladri lainnya, Fandi Ahmad (22).
Janda dua anak itu sempat curhat kepada tim evakuasi. Ia mengaku tidak diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya. Beberapa permintaan pun dilontarkannya termasuk menghubungi ibunya di Kendal.
"Minta telepon ibu sama pacarnya. Terus pacarnya disuruh naik. Kami negosiasi lagi sambil memasangkan pengaman," tandas Fandi.
Setelah berbincang melalui telepon, akhirnya Yulianti bersedia diajak turun. Dengan dibantu salah satu Tim SAR, ia turun menggunakan tali. Setibanya di bawah Yulianti langsung diberi bantuan pernafasan dan dibawa menggunakan mobil polisi ke Rumas Sakit. Sedangkan pacarnya, Pramono, dibawa petugas kepolisian.
Yulianti nekat naik ke tower setinggi 50 meter bertegangan 150 ribu volt itu sekitar pukul 08.00 WIB karena cemburu setelah dihubungi mantan istri Pramono yang meminta uang Rp 2 juta. Beruntung petugas PLN segera mematikan aliran listrik sehingga Yulianti tidak tersengat listrik.
"Sudah berkali-kali mau bunuh diri pakai pisau. Kali ini saya kaget dikabari saat mau berangkat kerja dia sudah ada di atas tower," ujar Pramono.
Salah satu warga sempat melihat Yulianti datang membawa pisau, namun petugas memastikan tidak ada benda tajam yang dibawa. Peristiwa tersebut sempat menyebabkan kemacetan di Jalan Kaligawe karena pengguna jalan yang penasaran dengan proses evakuasi.
(alg/gah)











































