"Regenerasi itu kan artinya nggak mungkin saya (Mega). Cuma dibikin sedikit bersayap, bisa Jokowi, Ganjar, atau yang lain. Tapi besar kemungkinannya yang akan regenerasi menggantikan Jokowi, dengan hitung-hitungan politiknya," kata pengamat politik Hamdi Muluk, kepada detikcom, Sabtu (7/9/2013).
Menurut Hamdi, pidato politik Mega saat membuka Rakernas PDIP jelas memberi pesan regenerasi soal pencapresan. Dengan begitu dominannya nama Jokowi disebut Mega, sebenarnya sudah jelas apa pesan yang dikirim Mega.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lanjut Hamdi, Mega tak akan buru-buru mengumumkan pencapresan Jokowi. Karena banyak pertimbangan termasuk kemungkinan jadi blunder bagi Jokowi dan PDIP.
"Saya kira pasti PDIP menghitung betul masalah tren Jokowi. Kalau terlalu cepat lawan politik bisa menggunting. Makanya baru setengah sinyal yang dikirim, jadi setelah dikirim sinyal bagaimana 4 bulan lagi Jokowi ini," katanya.
Analisis tersebut sepertinya sama dengan pemikiran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Karena Mega telah menegaskan capres PDIP baru akan dimunculkan setelah PDIP meraih hasil menggembirakan di Pileg.
(van/gah)










































