Mayoritas Aktivis Twitter Mendukung Miss World

Kontroversi Ajang Miss World

Mayoritas Aktivis Twitter Mendukung Miss World

Ropesta Sitorus - detikNews
Jumat, 06 Sep 2013 17:50 WIB
Mayoritas Aktivis Twitter Mendukung Miss World
Mereka juga membawa poster bergambar peserta Miss World. (Fotografer - Agung Pambudhy)
Jakarta - Pengamat sosial dan peneliti kajian budaya Universitas Indonesia Devie Rahmawati menyebut dibanding yang kontra, jumlah pendukung penyelenggaraan Miss World di Indonesia masih lebih banyak. Mengacu pada pantauan Prapanca Research di jejaring sosial Twitter, menurut Devie sebagian besar kicauan mendukung penyelanggaraan kontes ratu sejagad itu di Bali, dan Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Aktivis Twitter ingin melihat kontestan dari Indonesia bersaing dengan wanita dari berbagai belahan dunia. Memang ada sejumlah kontroversi yang mengundang perhatian.

“Ini karena wanita berkompetisi dengan mempertunjukkan tubuhnya dianggap kebarat-baratan, tak sesuai dengan norma dan tradisi yang dimiliki,” kata Devie kepada detikcom melalui surat elektronik Kamis (5/9) kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Devie, penolakan ajang Miss World tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terlihat di beberapa negara Asia lain, termasuk Thailand.

Sebenarnya dalam kontes sejenis, penilaian tak hanya difokuskan pada kemolekan tubuh kontestan tapi juga tes pengetahuan, kepribadian dan wawasan.

Sejak tahun 1980-an penilaian Miss World tak hanya mengacu pada komelekan tubuh, tapi juga pengetahuan, kepribadian, dan wawasan. Slogannya pun berubah menjadi ‘beauty with purpose’.

Tapi memang menurut Devie kontes kecantikan semacam Miss World atau Miss Universe selalu diidentikan dengan festival bikini. “Bukan tidak mungkin, jika ajang ini (bikini) ditiadakan peminatnya akan berkurang drastis,” kata dia.

Tapi ia menduga, khusus bagi khalayak Indonesia, peniadaan sesi kostum bikini tidak akan terlalu berpengaruh pada animo masyarakat. “Ajang ini masih baru bagi kita, dan ketimbang sebagai kontes bikini, kita disuguhkan dari awal sebagai kompetisi kecerdasan, kedua barulah kecantikan,” kata Devie.

Devie sependapat bahwa kontes Miss World bisa mengangkat nama Indonesia di kancah internasional. Sebab selain menunjukkan kualitas pribadinya, kontes antarbangsa ini bisa menonjolkan identitas bangsa seperti halnya olimpiade.
Menurut Devie pernyataan bahwa ajang Miss World bertentangan dengan tradisi bangsa tidak tepat. Justru Indonesia akan diuntungkan dengan menjadi tuan rumah kontes bergengsi tersebut. Salah satu keuntungan yang bisa didapat adalah promosi pariwisata ke khalayak internasional. “ini kesempatan yang strategis untuk menyebarkan citra Indonesia yang menawan. Mengapa dilewatkan?,” kata dia.

Panitia penyelanggara melalui Direktur MNC Media Group Budi Rustanto, sepakat dengan Devie. Menurut dia melalui ajang Miss World, dunia pariwisata Indonesia akan terangkat di kancah internasional. Sebab, seluruh kontestan, bisa menjadi alat promosi.

Apalagi nantinya seluruh peserta diharuskan mengunggah artikel maupun video di blog pribadi mereka usai berkunjung ke suatu tempat di Indonesia. Setiap laporan yang dapat komentar terbanyak akan jadi poin tambahan.

“Bayangkan kontestan berada di negara kita cukup lama, dicekoki dan belajar tarian kita, menggunakan batik sarung, dan makan makanan Indonesia, ke objek wisata. Pasti pulang ke rumahnya dia akan berpikir Indonesia kaya betul,” kata Budi.

(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads