"SD, SMP dan SMA sudah disiapkan teksnya. Awal lebih bersifat naratif nanti semakin tinggi kayak laporan, perlu observasi. Kalau memang lancar kurikulum ini siswa tidak akan susah untuk menulis dan plagiat-plagiat mulai menghilang," ucap Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof Dr Mahsun di Kemendikbud, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (3/8/2013).
Kurikulum ini berbasis teks dan berbeda dari tahun sebelumnya yang berbasis kompetensi. "Kurikulum 2013 berbasis teks, maksudnya adalah semua unsur bahasa diletakkan pada konteks tidak dilepaskan liar begitu saja," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau membangun teks narasi harus mempunyai data, berarti harus mengumpulkan data lalu terjadi pemilihan metode. Misalnya wawancara, di dalam wawancara itu akan menghadirkan 5 W dan 1 H sesuai dengan konteks," ucap Mahsun.
Mahsun mengatakan dalam proses pengumpulan data dan menganalisis dengan tahapan sistematis sebuah tulisan akan membuat siswa mampu berfikir secara ilmiah.
"Berbasis teks sesuai dengan konteks. Menjabarkan kompetensi dasar ke dalam kompetensi indikator," katanya.
Buku SD kelas 5 lanjut Mahsun akan memuat jenis teks anekdot, eksposisi, laporan hasil observasi dan negosiasi. Sedangkan untuk buku kelas 7 berisi teks laporan hasil obeservasi, tanggapan, eksposisi, eksplanasi dan cerita pendek.
Mahsun mengungkapkan melalui kurikulum 2013, Kemendikbud mengajak para siswa dan guru melakukan perubahan pola pikir. Kunci pembelajaran kurikulum ini ada pada guru, sehingga Kemendikbud akan melakukan monitoring pada para guru apakah kurikulum ini sudah diterapkan dengan benar.
(nwk/nrl)










































