Diperas 'Bodrek', Perhutani Jateng Tolak Beri THR

Diperas 'Bodrek', Perhutani Jateng Tolak Beri THR

- detikNews
Selasa, 02 Nov 2004 14:46 WIB
Semarang - Jangan coba-coba datang ke Perum Perhutani Jateng. Apalagi jika Anda mengaku-aku sebagai wartawan. Pasalnya, jauh-jauh hari menjelang lebaran mereka telah menempel puluhan pengumuman menolak memberi THR pada wartawan."Mohon maaf. Memenuhi anjuran dan tidak tersedianya dalam anggaran tahun 2004. Bersama ini diberitahukan bahwa Perum Perhutani Unit I Jateng TIDAK MEMBERI THR dan bentuk lainnya kepada wartawan atau pihak eksternal lain. Demikian untuk menjadikan maklum."Demikian isi tulisan tempelan itu. Selain ditempel di resepsionis, poster tersebut juga ditempel di ruang Humas, dan puluhan ruang lainnya. Bahkan, di dekat pintu lift pun juga ditempeli.Staf Humas Perum Perhutani Sudiman Hartanto menyatakan, poster-poster itu ditempel sejak memasuki bulan Ramadan. Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi aksi pemerasan yang dilakukan oleh wartawan gadungan atau "bodrek" menjelang datangnya lebaran."Biasanya mereka datang beramai-ramai. Kadang satu gelombang ada 15 orang. Mereka tidak berniat liputan tapi hanya nodong uang," kata Sudiman ketika dikonfirmasi seputar tempelan-tempelan di kantornya itu, Jl. Pahlawan Semarang, Selasa (02/11/2004).Sudiman mengaku kesal dengan ulah para "bodrek" itu. Mereka tidak hanya mengganggu aktivitas kantornya, tapi juga membuat para wartawan resmi kesulitan mengakses data. Karena pihaknya tidak tahu mana wartawan resmi mana yang palsu."Padahal sebetulnya kami sangat terbuka terhadap wartawan, tapi karena aksi mereka ("bodrek") kami terpaksa harus hati-hati," imbuhnya.Sikap kehati-hatian terhadap itu sepertinya merasuk pada semua pegawai Perhutani. Setiap ada orang yang datang dan mengaku wartawan, pihak resepsionis langsung berpandangan curiga. Sehingga mereka terkesan tidak serius melayani.Begitu pula ketika memasuki ruang kantor. Sorot mata semua pegawai langsung menusuk tamu yang mengaku wartawan. Kadang-kadang mereka saling berbisik satu sama lain. Tak jelas apa yang dikatakannya.Tapi ketika tahu wartawan tersebut tidak bertindak macam-macam, mereka pun langsung berubah. "Akhirnya, semua pegawai di kantor sedikit-sedikit tahu wartawan resmi dan yang tidak," demikian Sudiman Hartanto. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads