Pendapatan Melorot, Pengusaha Parsel Demo DPR
Selasa, 02 Nov 2004 12:48 WIB
Jakarta - Larangan menerima parsel bagi pejabat ternyata membuat pendapatan pengusaha parsel melorot. Mereka pun menjerit. Sebagai aksi protes atas larangan menerima parsel, mereka pun berunjuk rasa ke DPR.Mungkin baru kali ini, pengusaha parsel turun ke jalan berunjuk rasa. Mereka terdiri dari sekitar 50 orang. Mereka mengaku sebagai pengusaha parsel yang mangkal di Jl. Samali, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mereka datang ke gedung DPR, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, sekitar pukul 11.00 WIB, Selasa (2/4/2004). Sampai pukul 12.40 WIB, mereka masih berada di depan gedung DPR. Sekitar 24 perwakilan di antara mereka sedang menemui Humas DPR untuk menyodorkan tuntutan mereka. Menurut demonstran, aksi unjuk rasa ini dilakukan karena ada larangan pejabat menerima parsel. Larangan ini menurunkan pendapatan mereka secara drastis. Yos Aruddin, pemilik Kristal Parcel mengaku, pendapatannya anjlok 90 persen. "Di hari yang sama pada tahun lalu, biasanya parsel saya sudah terjual 50-70 paket. Tapi, saat ini hanya terjual 10 paket," kata Yos. Menurut dia, selama ini konsumennya adalah 50 persen perusahaan BUMN dan 50 persen perusahaan swasta. Dengan adanya larangan menerima parsel, konsumennya menurun drastis. "Kerugian yang saya derita, minimal Rp 70 juta, maksimal 200 juta," kata dia. Menurut Yos, selain ke DPR, dirinya dan teman-temannya sesama pengusaha parsel akan melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Para pengunjuk rasa juga membawa sejumlah spanduk. Antara lain, bertuliskan 'Yang Melarang Kirim atau Terima Parcel Telah Memutus Silaturahmi, Semoga Dilaknat Allah', 'Parcel Yes, Korupsi No', 'Kalau Gak Becus Memberantas Koruptor, Jangan Parcel Jadi Sasaran.'
(asy/)











































