Ironis, 100 Ha Sawah di Daerah Kaya Air Malah Kekeringan

Ironis, 100 Ha Sawah di Daerah Kaya Air Malah Kekeringan

- detikNews
Selasa, 02 Nov 2004 11:50 WIB
Ambon - Air merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di muka bumi. Namun terkadang juga air bisa menjadi sumber petaka buat kehidupan manakala kita serakah dalam mengolah air.Ungkapan di atas adalah realitas jika kita melihat langsung kondisi lahan pertanian sawah di seputaran lokasi transmigrasi Desa Morokay Kecamatan Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah. Daerah itu sebenarnya wilayah berkecukupan air. Tapi akibat keserakahan manusia, ironisnya tidak kurang dari 100 hektar areal sawah di daerah kaya air ini terancam mengalami kekeringan.Proyek Talang 12 yang merupakan bagian dari Proyek Irigasi Teknik (Irtek) Desa Samal dan sekitarnya dengan alokasi dana senilai Rp 4 miliar dari anggaran tahun 2001-2002, tidak mampu memberikan dampak manfaat buat petani guna mengairi sawah yang ada. Gagal panen pun membayang.Pantauan detikcom, Selasa (2/11/2004) langsung dari Desa Morokay menyebutkan, faktor penyebab mengeringnya sawah para petani disebabkan karena Proyek Pembangunan Talang 12 di Morotay runtuh sebelum memberikan manfaat bagi para petani.Berdasarkan penelusuran detikcom, runtuhnya Talang 12 karena kontraktor yang memenangkan tender kembali mengsubkan tender yang dimenangkannya kepada pihak lain hingga pelaksanaan proyek Talang 12 terjadi banyak campur tangan oknum-oknum yang ingin meraup keuntungan, tanpa memperhatikan kualitas bangunan proyek yang dibangun.Menurut pengakuan warga yang ditemui detikcom di lokasi runtuhnya talang, banyakpenyebab sehingga talang yang dibangun tidak memiliki kualitas sebagaimana diharapkan para petani. Selain dana yang dipakai tidak sudah wajar lagi untuk mendirikan talang air sepanjang 12 meter, keberadaan pengawas dari Dinas PU Provinsi Maluku yang seharusnya mengawasi jalannya proyek agar tepat sasaran dan tepat guna justru berpihak pada kontraktor dan pemborong bangunan.Bahan material berupa semen dan pasir untuk pembangunan talang 12 banyak yang dicuri. Ironisnya, hal itu diketahui oleh pengawas namun dibiarkan saja. "Jadi dugaan kami semen dan pasir banyak yang dicuri untuk keuntungan oknum-oknum proyek tersebut. Dan ini perbuatan orang dalam," ujar warga yang enggan namanya disebut.Hilangnya bahan material pernah dilaporkan warga, tapi malah mendapat semprot dengan kata-kata yang tidak mengenakkan dari oknum pengawas tersebut. Warga akhirnya tidak bisa berbuat banyak dan tidak dapat berharap mendapat mutu bangunan yang layak untukpengairan sawah mereka.Kepala Desa Morokay, Seger, yang dikonfirmasi detikcom mengakui kalau talang air yang dibangun sudah runtuh sebelum ada serah terima proyek itu kepada pemerintah desa. Ia menyayangkan hingga kini tidak ada pihak-pihak terkait yang beritikad baik untuk membangun kembali talang yang sudah rontok itu.Sementara ketika detikcom mencoba menemui pengawas dari Dinas PU Provinsi Maluku yang mengawasi proyek tersebut tidak berada di tempat, dan dikabarkan sedang pulang ke daerahnya di Maluku Tenggara. Sementara itu, proyek talang 25 yang merupakan bagian dari proyek senilai Rp 4 miliar ini juga diprediksi akan runtuh karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Hal itu disebabkan penyangga bangunan talang air ini terjadi pencurian kubikasi campuran material saat proses pembangunan sedang berlangsung.Terkait soal ini, Kepala Dinas PU Provinsi Maluku yangdihubungi detikcom di ruang kerjanya tidak berhasil ditemui. "Maaf, Bapak lagi keluar daerah," ujar sekretarisnya. (nrl/)


Berita Terkait