Namun, jika warga menyerang dulu dan memprovokasi, tentu petugas Satpol PP tidak akan tinggal diam. Petugas akan berupaya melumpuhkan. “Itu manusiawi menghindar dan melumpuhkan kalau ada yang menyerang. Bukan menyeret atau menginjak-injak,” kata pria yang akrab disapa Ahok ini.
Ahok pun menanggapi santai soal adanya laporan warga Waduk Pluit ke polisi. Bahkan dia menilai langkah itu paling tepat daripada warga menghalangi upaya Pemerintah Provinsi DKI saat menertibkan penghuni ilegal di Waduk Pluit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta Kukuh Hadi Santoso juga menepis laporan adanya kekerasan yang dilakukan petugas Satpol PP terhadap warga. Dia mengaku sudah berkali-kali mengintruksikan kepada anggotanya agar bersikap sesuai etika dan manusiawi. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pun ingin penertiban warga yang tinggal di bantaran Waduk Pluit tidak berlangsung ricuh.
Maka, ia tidak percaya bila ada laporan warga yang diseret hingga diinjak-injak petugas Satpol PP. Agar menghindari petugas Satpol PP emosi, ia juga melarang anak buahnya membawa pentungan saat menertibkan.
Tapi, kalau warga emosi, tameng dan pentungan pasti disertakan untuk menjaga diri juga menghindari aksi kekerasan atau pelemparan benda yang dilakukan warga. “Kalau itu saya rasa beda konteksnya. Karena sampai sore saya tidak melihat adanya aksi kekerasa berlebihan,” katanya.
Kukuh mengaku sebelum proses eksekusi ada laporan bahwa sebagian besar warga bersedia direlokasi. Petugas juga siap memebantu mengangkat barang-barang warga ke dalam truk. Tapi, memang ada oknum warga yang menjadi provokator agar barang jangan mau dibawa.
“Ada penjagaan bantuan polisi dan TNI. Silakan dicek. Kami sudah sabar bantu mereka. Angkat-angkat, mengepak barang ke truk mobil. Ya, tapi memang ada sebagian warga yang sinis dan menjadi provokator,” kata Kukuh kepada detikcom di Balai Kota, Rabu (28/8) kemarin.
Dia menambahkan, sebenarnya Gubernur Jokowi sudah terlalu sabar menghadapi persoalan warga Waduk Pluit ini. Sebelum dibongkar Jokowi sudah menyiapkan rumah susun sebagai pengganti tempat tinggal warga. Mantan wali kota Surakarta itu juga mengajak warga berdialog dalam sebuah jamuan makan siang.
Namun, toh ada satu pihak yang berkepentingan relokasi tidak berjalan dengan baik. Salah satunya dari seorang pemilik 20 rumah kontrakan.
Begitu juga adanya laporan calo-calo nakal, yang ternyata merupakan warga setempat. Para calo itu memanfaatkan peristiwa ini untuk keuntungan pribadi. “Ya begitu laporannya tapi saya enggak tahu orang-orangnya. Pak Jokowi ini sudah sangat sabar lho. Harusnya mereka yang bandel bisa sadar karena tanah itu milik negara dan akan dipakai untuk kepentingan yang lebih besar,” katanya.
Satpol PP siap menghadapi laporan sejumlah warga Waduk Pluit ke polisi. Apabila memang terbukti ada petugas yang bertindak kelewat batas, dia siap memberi sanksi yang berat. Tapi, kalau bersikap keras demi menyelematkan dari emosi warga itu beda dan harus dipahami. “Kalau ada (yang kelewatan), saya tempeleng dan peringatin keras,” kata dia.
(erd/erd)











































