Jeritan Istri Pejabat: Berawal dari Golf, Dicerai Tanpa Alasan Kemudian

Jeritan Istri Pejabat: Berawal dari Golf, Dicerai Tanpa Alasan Kemudian

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikNews
Selasa, 27 Agu 2013 14:47 WIB
Jeritan Istri Pejabat: Berawal dari Golf, Dicerai Tanpa Alasan Kemudian
Ilustrasi (dok detikcom)
Jakarta -

Semua berawal dari golf. Dari golf pula suami Matahari (bukan nama sebenarnya, red) mulai berubah gaya hidupnya, keluarga tak lagi menjadi prioritas. Perempuan lain mulai berseliweran dalam kehidupan rumah tangganya, hingga menceraikan Matahari tanpa alasan yang jelas.

"Saya tahu sekali, pejabat seperti Rudi Rubiandini itu tak cuma satu, tapi banyak sekali. Ini semua berawal dari golf lho," ujar Matahari.

Dalam suratnya kepada redaksi detikcom yang diterima Selasa (27/8/2013), Matahari membagikan pengalamannya bagaimana jerat-jerat itu dimulai dari lapangan golf.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Suami saya seorang pejabat tinggi, rumah tangga kami sedang di ujung tanduk. Sikap bapaknya anak-anak berubah semenjak dia memegang jabatan tinggi, memiliki kekuasaan, materi dan fasilitas. Salah satunya dari golf. Di golf itulah 'setan' berdatangan, yang awalnya hanya laki-laki semua, nanti berikutnya datang perempuan-perempuan, dilanjut makan-makan, main di luar negeri, taruhan, dsb," tulis Matahari.

Dirinya yang mengasuh beberapa buah hati dari suaminya, sesekali pernah menemani. "Ya paling kalau diajak hanya driving-driving aja. Atau sesekali diajak kalau ada acara kenegaraan," imbuhnya.

Lama-kelamaan, suaminya beralasan main golf hingga ke luar negeri itu hanya untuk 'ketemu teman'. Matahari makin lama mendapati 'teman' itu adalah perempuan yang akhirnya menjadi orang ketiga dari suaminya.

"Semua ini terus berlanjut, sampai suatu waktu saya digugat cerai tanpa sebab, saya dan anak-anak yang masih kecil-kecil ditelantarkan, tidak dinafkahi, dan sebagainya," tuturnya.

Menurutnya, selalu ada 'perempuan', baik di lapangan golf maupun di jamuan makan. Dan 'perempuan' itu, menurutnya, berasal dari instansi atau perusahaan di mana suaminya menghadiri acara.

"Semuanya fasilitas lho itu. Istilahnya mau main di mana, di dalam atau luar negeri, tinggal pilih saja," tuturnya.

Pihaknya sempat melaporkan kelakukan suaminya ini ke atasan sang suami langsung agar ditegur. Namun hasilnya nihil. Atasan dan rekan suaminya, menurutnya saling melindungi karena memiliki kepentingan sendiri.

"Begitu saya kecewa terhadap sikap para pejabat di Indonesia, yang ternyata semua 'saling' melindungi satu sama lain. Sedangkan bagaimana nasib penerus bangsa ini, anak-anak yang saya perjuangkan nasibnya, sama sekali tidak menjadi perhatian mereka. Semua bagi mereka hanya demi nama baik, kekuasaan, jabatan, materi, sanjungan perempuan-perempuan, jamuan, fasilitas," tuturnya kecewa.

"Saya tahu banyak pejabat seperti Pak Rudi itu. Istri-istri pejabat yang glamour itu, semua kehidupannya palsu. Di balik itu semua, negara ini akhirnya hanya menunggu detik-detik kehancuran. Krisis akhlak tidak menjadi perhatian," sesalnya.

Matahari bersyukur, kehidupannya kini menjadi lebih damai. Hikmah di balik itu semua, dirinya merasa dijauhkan Allah SWT dari kehidupan gemerlap dunia yang dinilainya palsu itu.

"Kini saya lebih tenang. Saya larinya lebih ke agama ya," tutur perempuan yang kini berusaha menghidupi dan merawat anak-anaknya dari keterampilan yang dipelajarinya sejak masih gadis di bidang seni ini.

"Semoga kisah saya ini bisa menjadi perhatian untuk para petinggi dan bahan renungan, bagaimana bahayanya golf yang bukan hanya sekedar olahraga, tapi golf adalah "pintu" masuk menuju kemaksiatan," tutupnya.

Para pembaca detikcom, bila Anda memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan berawal dari golf seperti yang dialami Matahari, silakan kirimkan cerita Anda ke redaksi@detik.com. Disertai nomor telepon yang bisa dihubungi.

(nwk/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini