"Dalam pertemuan satu jam kita diskusikan tantangan besar bangsa saat ini dan kita saksikan persoalan fundamental Indonesia adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan kepada dunia politik, cita-cita melunasi janji kemerdekaan, panggilan itu yang jadi perhatian utama ketika saya dapat undangan hadir sebagai terundang dalam konvensi capres PD," kata Anies dalam konferensi pers usai wawancara di kantor Komite Konvensi Capres PD di Wisma Kodel, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (27/8/2013).
Pria kelahiran Kuningan 44 tahun lalu ini sempat ditanya apakah bersedia ikut konvensi capres PD. Anies pun menjawab dengan tegas kesediaannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan ucapkan bismillah saya tegaskan saya siap dan saya jalani proses ini dengan sebaiknya," lanjut cucu pejuang AR Baswedan ini.
Anies siap ikut aturan main konvensi capres PD. Dia membawa cita-cita dan misi untuk melunasi setiap janji kemerdekaan. Anis tak khawatir citranya bisa dipertaruhkan dalam konvensi.
"Insya Allah ini bukan persoalan citra, langkah apa yang kita lakukan akan dinilai bukan oleh rumor tapi oleh sejarawan besok. Itu yang lebih saya takutkan (penilaian sejarawan) kalau opini cepat berubah, jangan karena kita bicarakan citra, saya ingin otentik, jalan secara baik," ungkap mantan ketua senat mahasiswa UGM ini.
Untuk menggolkan langkahnya di konvensi, Anies ingin membentuk tim yang bertanggung jawab dan berpolitik dengan bermartabat.
"Kita jawab kalau berhasil, secara prinsip republik nomor satu, justru yang membuat masalah adalah kepentingan jangka pendek. Nomor 1 adalah bangsa negara. Timses rasanya harus ya," katanya.
Anies juga menegaskan dirinya tak mencari posisi, apalagi mengincar posisi menteri kalau kalah konvensi. "Kalau kita bicara tanggung jawab, saya diundang, saya terima, dan saya akan jalankan sesuai misi yang selama ini kita miliki, bukan soal posisi," terang Anies.
Lalu dari mana dukungan dana Anies untuk konvensi capres PD? "Sudah dipikirkan nanti akan dimulai dan saya katakan ini kan dijalankan dengan cara baik," tandas pria yang masuk 100 Intelektual Publik Dunia versi majalah Foreign Policy tahun 2008 ini.
(van/nrl)











































