"Sama dengan bagian audit terhadap Andi Mallarangeng, terhadap Choel pun tidak ada konfirmasi yang dilakukan. Semua hanya "katanya", versi Wafid semata, yang sebenarnya dalam Audit BPK II ini disimpulkan sebagai salah satu tokoh utama yang terlibat dalam berbagai kesalahan proyek Hambalang," kata Koordinator Tim Elang Hitam, Rizal Mallarangeng dalam jumpa pers di Freedom Institute di Jakarta Pusat, Senin (26/8/2013).
Rizal yang sengaja membentuk tim elang hitam guna mengungkap kasus Hambalang menegaskan, Choel tidak pernah mengatur proyek Hambalang, apalagi meminta fee 15 persen dari setiap proyek di Kemenpora sebagaimana cerita Wafid.
"Cerita audit BPK, versi Wafid, seolah merangkai-rangkai pertemuan Choel dengan Wafid dan pihak Adhi Karya menjadi satu jalinan cerita konspirasi proyek. Padahal fakta yang ada jauh dari itu. Audit BPK sendiri telah menggambarkan berbagai kesalahanya dalam melimpahkanya ke pihak lain, dalam hal ini kepada Choel," tuturnya.
Rizal menyarankan, sebenarnya bisa dengan mudah BPK dapat bertanya kepada Teuku Bagus dari Adhi Karya serta kepada utusan Wafid dalam pertemuan yang membicarakan fee proyek, yaitu DK dan Lisa. Agar berimbang, lengkap dan adil.
"Tanyakan kepada mereka, benarkah Choel yang mengatur-atur fee tersebut? Tapi ini semua tidak dilakukan. Hal yang sama juga dapat dilihat dalam soal penunjukan PT GDM sebagai subkon Proyek Hambalang. Choel tidak pernah diminta klarifikasi oleh BPK. Keterangan Bu Nani dan pak Herman juga tidak pernah dimuat. Semua cerita dalam audit hanya versi sepihak," jelasnya.
(bag/ndr)











































