Sahabat karibnya, Suprapto Suryodarmo, mengabarkan bahwa Totok meninggal hari ini di usia 62 tahun. Totok dalam beberapa tahun terakhir memang telah bergulat dengan penyakit gula yang dideritanya dan harus berada di atas kursi roda untuk menjalankan aktivitasnya karena beberapa kali terserang stroke.
Bakat seni Totok terasah semenjak kecil. Dia lahir dan dibesarkan di keluarga seniman tradisional. Ayahnya, Soesiloatmodjo, adalah seorang dalang dan seniman serba bisa sangat disegani di Solo. Penari dan koreografer kenamaan, Retno Maruti, adalah kakak kandung Totok. Sedangkan adiknya, Djarot Bintoro, juga menekuni dunia seni, khususnya seni perfilman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara karya fenomenal itu adalah wayang tiga dimensi 'Wayang Budha' yang dia ciptakan pada dekade 80-an, gamelan pamor, ormanen hias di pendopo Taman Budaya Surakarta, dan masih banyak lagi. Selain itu Totok juga sering menjadi penata artistik pementasan teater tari garapan Sardono W Kusumo, Retno Maruti, Sentot Sudiarto, dan lain-lainnya.
Totok juga merupakan salah satu tokoh pendiri Bentara Budaya, bahkan dia sempat beberapa tahun mengawal perkembangan Bentara Budaya sebagai kurator di bidang seni rupa.
Sebelum jatuh sakit, Totok sangat dikenal akrab sebagai pegiat lesehan 'Ngisor Pelem' di samping kantin Taman Budaya Surakarta. Lewat forum pertemuan informal yang selalu dipadati akademisi, seniman, aktivis, wartawan, hingga politisi itu, Totok memacu dan menyemangati seniman-seniman muda untuk terus berkarya.
(mbr/nrl)











































