Dinilai Merugikan, Nasabah Minta Bank Jamin Keamanan Data

Membongkar Jual Beli Data Pribadi

Dinilai Merugikan, Nasabah Minta Bank Jamin Keamanan Data

- detikNews
Senin, 26 Agu 2013 15:15 WIB
Dinilai Merugikan, Nasabah Minta Bank Jamin Keamanan Data
Ilustrasi Foto. Fotografer - Pool
Jakarta - Wajah Ani Indrie, 27 tahun, bingung ketika ada panggilan masuk ke telepon selulernya dari nomor tidak dikenal. Raut wajahnya pun berubah kesal karena orang yang menelepon menawarkan pembuatan kartu kredit salah satu bank swasta. Bukannya menjawab, ia malah sewot mempertanyakan info datanya kepada orang yang menelponnya.

“Iya bagaimana gak sewot. Tahu nama dan handphone gue dari mana. Ini dua kali sebulan lo. Dari bank yang sama, tapi orangnya beda yang telepon,” kata Ani kepada detikcom, Kamis pekan lalu. Dia mengaku resah kalau ditelepon orang tidak dikenal hanya untuk menawarkan kartu kredit.

Ani mengakui, enam bulan lalu saat jalan di Mall of Indonesia, Kelapa Gading, ia memang pernah menyerahkan nama dan nomor ponsel kepada sales pembuatan kartu kredit salah satu bank BUMN setelah agak dipaksa. Sales itu berjanji data yang diberikan Ani akan dirahasiakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu juga dengan Noviyanti, 29 tahun. Meski sudah berkali-kali tidak tertarik membuat kartu kredit, ia acapkali ditelepon untuk penawaran yang sama. Saat bulan Ramadan lalu, ia ditelepon dua kali untuk penawaran kartu kredit dengan iming-iming diskon saat belanja Lebaran.

Nah, tapi yang membingungkan dirinya kenapa nomor telepon selulernya bisa diketahui oleh telemarketing dua bank yang berbeda. Padahal, ia tidak pernah berurusan atau punya rekening tabungan di dua bank tersebut. “Kok bisa kayak begitu,” ujar karyawan swasta ini kepada detikcom, Jumat pekan lalu.



Telepon atau pesan singkat berisi tawaran kartu kredit, asuransi, dana tunai, atau kredit tanpa agunan dinilai mengganggu. Meir Situmorang, 27 tahun, karyawati di perusahaan swasta mengaku memang tak pernah "terjebak" dengan rayuan tenaga pemasar itu. Tapi ia menyesalkan bocornya data-datanya dari bank.

Apalagi, kata Meir, tak tertutup kemungkinan data tersebut dimanfaatkan pihak lain untuk tindak kejahatan terselubung. “Takutnya kita jadi dipakai untuk tempat pencucian uang juga, temanku pernah tiba-tiba dapat uang puluhan juta, tanpa tahu dari siapa. Akhirnya di call bank terus ditanya, kalau enggak salah satu jam kemudian duitnya langsung lenyap, jadi ada money laundering,” kata dia membeberkan kepada detikcom, Kamis (22/8) lalu.

Maringan Harianja, 25 tahun, juga tak terima nomor telepon dan data pribadinya disebarluaskan. Dia menyesalkan perusahaan penyedia kartu kredit yang tidak bisa menjamin keamanan data nasabahnya. Hal tersebut tentunya merugikan nasabah.

Belum lagi, nasabah yang tidak mengerti, ditawari produk yang dia tidak tahu kemudian si nasabah hanya ditanya secara lisan tapi tiba-tiba sudah dianggap setuju. "Lalu dia akan dibebankan biaya tahunan kartu kredit itu,” ujar Maringan kepada detikcom Kamis pekan lalu.

Dia berharap agar isu jual beli database nasabah ini bisa diungkap sehingga bisa ada solusi berupa kebijakan yang lebih ketat. “Sama kayak kasus pencurian pulsa yang booming kemarin, kalau enggak diangkat masih saja ada SMS layanan yang nyedot pulsa kan.”

Senada, Githa, 31 tahun, pun menilai persoalan penyebaran database sangat merugikan konsumen. Padahal sebagai nasabah, ia berharap data-data pribadi yang ia berikan ke perbankan bisa dijamin keamanannya, bukannya beredar sembarangan.

“Saya gak pernah nabung di bank itu tapi tiba-tiba ditawarin kartu kredit. Bohong banget kalau dibilang konsumen gak kena biaya kalau kartunya enggak dipakai, kan ada abonemen,” ujarnya kepada detikcom Kamis pekan lalu.

Dia berharap kalangan perbankan bisa bertindak tegas untuk menertibkan penyebaran database nasabah. “Kita kan sudah percayakan data kita di mereka, ada klausulnya lagi.”

(brn/brn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads