"Iya saya menyesal tidak membantu Sisca. Kalau saat itu berdua, saya berani menolong. Kalau sendiri enggak berani," ujarnya saat ditemui di Pos Satpam, Jalan Sindang Sirna, Jumat (23/8/2013).
Menurut Yadi, kedua pelaku cukup sadis. Ia pun merasa aneh jika modus kedua pelaku hanya untuk menjambret. "Sadis banget. Kalau jambret sepertinya enggak begitu banget," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sempat bertemu, saya melihat dari kaca. Polisi menanyakan apakah ciri-cirinya sama. Saya jawab hampir sama," tutur laki-laki yang terkadang bekerja sebagai buruh bangunan ini.
Yadi kini mengaku lebih tenang, walaupun sempat membuat keluarganya yang kaget atas kejadian ini. Yadi sendiri memang bukan warga sekitar lokasi. Keluarga Yadi sebelumnya tinggal di Sukahaji, namun karena terkena gusur, keluarganya lalu pindah ke Cipatat. Sementara Yadi tinggal di pos satpam bersama salah satu keluarganya, Toni.
"Waktu saya pulang, orang tua saya sempat kaget. Apalagi waktu mau rekonstruksi, polisi menjemput saya ke Cipatat. Tapi sekarang sudah lebih tenang," ujar bungsu dari 5 bersaudara ini.Β
Yadi merupakan saksi pertama yang melihat kejadian penjambretan Sisca. Secara kebetulan, Yadi hendak mengambil nasi untuk berbuka puasa di kawasan Sarijadi, lalu mau mengambil sepatu ke Babakan Jeruk. Saat akan kembali ke Pos Satpam, Yadi melewati daerah kosan Sisca.
(avi/trw)










































