Banyak Tabrakan Mobil vs KA, Cermin Buramnya Perkeretaapian

Banyak Tabrakan Mobil vs KA, Cermin Buramnya Perkeretaapian

- detikNews
Senin, 01 Nov 2004 09:00 WIB
Jakarta - Tabrakan antara mobil dan kereta api (KA) di pintu perlintasan KA bukan cerita baru. Seringnya terjadi kecelakaan yang menelan korban jiwa ini hanya sebagian kecil dari buruknya manajemen perkeretaapian di Tanah Air.Pendapat ini disampaikan anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (1/11/2004) pagi, mengomentari sering terjadinya kecelakaan di pintu perlintasan KA yang menelan korban jiwa. Kejadian terakhir menimpa Direktur Jasa Pembiayaan Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan Depertamen Keuangan Praptarjo Adhi Paryono Fajari. Adhi beserta isteri dan sopirnya tewas dalam tabrakan mobil dan KA di pintu perlintasan KA di kompleks Bintaro Permai, Bintaro Jaya, Tangerang, Minggu (31/10/2004) kemarin."Secara teknis perlintasan KA memang memprihatinkan. Dari sekian ribu perlintasan, terutama di Jawa dan Bali, hanya 50 persen yang ada palangnya. Kalau pun ada palangnya sering tidak ada penjaganya. Kondisi sangat membahayakan. Bahaya terbuka lebar," kata Tulus.Kondisi ini, menurut Tulus, diperparah oleh banyaknya pintu-pintu perlintasan KA rial yang dibuat oleh masyrakat setempat. Tujuannya untuk mempermudah akses. "Untuk pintu-pintu liar ini memang dilematis dan sulit ditangani."Untuk mengurangi bahayanya PT Kereta Api Indonesia memasang palang dan menyediakan penjaga di setiap perlintasan KA. "Untuk pintu-pintu luar PT KAI seharusnya bisa berkomunikasi dengan masyarakat setempat untuk untuk mengelola pintu perlintasan."Dipaparkan Tulus, memprihatinkannya kondisi perlintasan KA adalah bagian dari buruknya manajemen PT KAI. Kondisi perkeretaapian sudah jauh menurun dibanding zaman penjajahan Belanda dulu. Misalnya dari panjang rel di zaman Belanda mencapai sekitar 6.000 kilometer, dan kini hanya tinggal 4.169 kilometer."Ini menandakan betapa buramnya perkeretapain kita. Dari tahun ke tahun anggaran untuk perawatan juga terus menurun. Mestinya biaya perawatan naik, bukan turun. Padahal dari segi peralatan sudah menurun sehingga perawatan harus ditingkatkan. Safety managament diabaikan PT KAI", tukas Tulus.Lebih lanjut dipaparkan Tulus, memprihatinkannya kondisi perlintasan KA akan menjadi bom waktu bagi industri perkeretapian bila tidak ditangani secara benar. Sebab, perlintasan antara KA dan tranportasi darat sebenarnya tidak boleh terjadi."Mestinya tranportasi darat tidak boleh terjadi. Kalau ada pertemuan antara jalur KA dan jalan raya, salah satu harus mengalah. Entah dibuat fly over untuk jalan raya, atau dibuat rel kereta apinya yang dibuat di atas jalan raya," ujar Tulus.Diakui Tulus, untuk membenahi masalah ini secara nasional mungkin sulit. Tapi untuk Jakarta pengaturan seperti ini, jalan raya dan rel KA tidak boleh bertemu, seharusnya bisa dilakukan. "Setelah itu baru secara bertahap dilakukan untuk nasional, terutama Jawa-Bali."Ketika ditanya apakah peningkatan kualitas pengelola perkereapian perlu menjadi program 100 hari departemen perhubungan, Tulus mengiyakan. "Bukan perlu lagi, tapi harus. Menhub Hatta Rajasa kan pernah bilang mau meningkatkan pelayanan transportasi. Menjadikan tranportasi sebagai layanan publik." Departemen perhubungan, lanjut Tulus, harus mempunyai program yang jelas untuk meningkatkan pelayanan transportasi KA. Sebab meningkatkan pelayanan KA tidak hanya bisa dilakukan oleh PT KAI."Ini harus menjadi kebijakan pemerintah yang selama ini lebih concern pada industri otomatif. Bidang perkeretaapian selama ini diabaikan oleh pemerintah. Dibonsai. Selain perbaikan managerial PT KAI, pemerintah harus lebih concern pada masalah perkeretaapian," demikian Tulus Abadi. (gtp/)



Berita Terkait