Jepang Tetap Pertahankan Pasukan Militernya di Irak
Minggu, 31 Okt 2004 11:14 WIB
Jakarta - Setelah turis Jepang Shosei Koda dipenggal kepalanya oleh penyandera, pemerintah Jepang tetap tidak akan menarik pasukan militernya dari bumi Irak. Pemerintah Jepang mengutuk keras pemenggalan kepala warga negaranya itu. "Aksi terorisme dengan menghabisi penduduk sipil adalah perbutan terkutuk dan kita tidak akan memberikan toleransi terhadap tindakan itu," kata Menlu Jepang Nobutaka Machimura dalam konferensi pers setelah dipastikan Shosei Koda dibunuh, Minggu (31/10/2004). Sementara juru bicara pemerintah Jepang Hiroyuki Hosode menyatakan, pasukan militer akan tetap berada di Irak, meski warga Jepang telah dibunuh. Pasalnya, keberadaan pasukan di Jepang dalam rangka misi non-pertempuran, terkait rekonstruki pemerintahan di Baghdad. "Negara kami tidak akan pernah melupakan duka cita dan rasa sakit ini ini dan kita akan melanjutkan untuk berkomitmen memerangi terorisme," kata dia. "Pasukan kami akan meneruskan untuk memberikan pertolongan kemanusiaan dan bantuan rekonstruksi di Irak sebagai teman," imbuhnyua. Jenazah Shosei Koda ditemukan tanpa kepala di sebuah lapangan di Baghdad hari Sabtu (30/10/2004) kemarin. Setelah diidentifikasi, jenazah itu memang Shosei Koda, seorang turis jepang berusia 24 tahun yang diculik sebuah kelompok jaringan al-Qaeda.
(asy/)











































