"Sebagai salah satu aset nasional, sudah saatnya bagi Indonesia untuk bangkit dengan kemampuan mengelola rempah sebagai komoditas tak ternilai harganya, di mana dalam hal ini dukungan pemerintah dan swasta serta semua stakeholders sangat diperlukan," kata Agung.
Agung menyampaikan hal ini dalam acara International Conference of Spices 2013 di Hotel Aston, Natsepa, Ambon, Senin (19/8/2013). Turut hadir dalam acara ini Menteri Pertanian Suswono, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, dan tamu undangan lainnya, serta perwakilan negara sahabat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di mana tanaman rempah termasuk yang harus diberdayakan, tetapi saat ini belum berhasil diwujudkan," ujar politisi Golkar ini.
Agung menambahkan penguatan produksi hasil perkebunan tidak harus selalu sawit dan lainnya. Rempah-rempah juga harus dioptimalkan sebagai perkebunan yang merepresentasikan Indonesia timur.
"Kita tidak harus hanya memperhatikan komoditas-komoditas yang layak secara ekonomi untuk dikembangkan secara besar seperti kelapa sawit. Sebaiknya juga berbagai minor crop seperti rempah-rempah yang menyangkut banyak keluarga tani dan sangat berkaitan langsung dengan kesejahteraan mereka, terutama di Indonesia bagian timur," ujar Agung.
Setelah menyampaikan pidatonya, Agung menandakan dimulainya konferensi yang akan berlangsung hingga tanggal 21 Agustus 2013 ini dengan memukul gendang. Ia berharap konferensi bisa mengembalikan kilau rempah-rempah Maluku yang pernah membuat penjajah terpukau 3,5 abad silam.
(vid/mad)











































