WO, Koalisi Kerakyatan Justru Kalah Set & Strategi

WO, Koalisi Kerakyatan Justru Kalah Set & Strategi

- detikNews
Sabtu, 30 Okt 2004 15:33 WIB
Jakarta - Aksi walk out (WO) yang dilakukan Koalisi Kerakyatan saat pemilihan pimpinan komisi parlemen dinilai tidak efektif. Justru jadi kalah set dan strategi."Kemungkinan, Koalisi Kebangsaan yang didominasi oleh politisi lama dan senior memiliki pengalaman politik yang kuat. Akibatnya pendatang baru seperti Koalisi Kerakyatan kalah set dan strategi, dan ditinggalkan begitu saja."Demikian disampaikan pengamat politik Sukardi Rinakit usai acara diskusi di Kafe Marios Place Menteng Jakarta Pusat, Sabtu (30/10/2004)."Itu salah satu alasan mengapa akhirnya Koalisi Kebangsaan membentuk atau memilih ketua komisi sendiri. Kemungkinan lain, karena kekhawatiran Koalisi Kerakyatan yang sudah WO tidak jelas kapan kembali dan kapan mengikuti sidang kembali, sehingga akhirnya mereka mengambil sikap untuk memutuskan sendiri," urainya.Sukardi mengingatkan agar anggota parlemen menghentikan upaya WO, dan harus tetap di tempat untuk terus menerus melakukan perdebatan dalam menentukan sebuah policy."Intinya di DPR sebaiknya jangan WO ketika situasi kompetisi hampir berimbang. Karena kalau WO, yang tetap di ruangan yang akan mengambil keputusan," katanya.Munculnya mosi tidak percaya yang diajukan Koalisi Kerakyatan kepada pimpinan DPR, dinilai Sukardi, bersumber dari beberapa pertikaian sebelumnya. Pertikaian dua koalisi itu berkaitan langsung dengan Pilpres, di mana Partai Demokrat yang notabene partai kecil memenangkan pertempuran."Sementara Koalisi Kebangsaan kalah. Akibatnya dari awal dia setinggi-tingginya membuat palang agar presiden sulit bekerja. Dengan sulitnya policy diambil di parlemen, maka otomatis menghambat kerja presiden. Jadi paling tidak dalam 100 hari, presiden tidak dapat mencapai target yang diharapkan," tuturnya."Bila konflik tersebut terus menerus terjadi, ini mengakibatkan pemerintah tidak bisa berjalan dan mengakibatkan apatisme rakyat kepada politisi menjadi luar biasa. Akhirnya rakyat menyimpulkan semua politisi hanya mengejar kekuasaan," demikian Sukardi. (sss/)


Berita Terkait