Polri memberikan peluang kepada para Paskibraka Nasional untuk masuk ke pendidikan Akademi Kepolisian (Akpol) melalui jenjang penyaringan yang telah ditetapkan. Seharusnya tidak ada pungutan untuk jadi Taruna/Taruni Akpol.
"Kalau ada anggota Polri seperti itu, di samping penipu atau pemeras dia juga pengemis," kata Wakapolri Komjen Oegroseno di hadapan anggota Paskibraka Nasional yang hadir di Rupatama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (19/8/2013).
Pernyataan tersebut disampaikannya menjawab pertanyaan salah seorang anggota Paskibraka perwakilan Sulawesi Selatan bagian Barat (Sulselbar) yang menanyakan adanya pungutan untuk masuk ke Akpol. Bahkan, ujar Paskibraka tersebut, uang yang diminta mencapai ratusan juta rupiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk sekolah kedinasan, khususnya di Akpol, semua diserahkan kepada kesiapan para calon Taruna/Taruni. Selain fisik intelegensi para calon turut mendukung agar para calon dapat lolos dari seleksi.
"Tes lulus karena prestasi, bukan karena memberi atau menerima uang. Kalau anda mampu dan tidak punya uang, pasti lulus. Intinya tidak ada pungutan, itu hanya menakut-nakuti saja. Kalau masih ada laporkan kepada saya," kata mantan Kabaharkam Polri ini.
Dia mengimbau, bila ada anggota Paskibraka yang memiliki cita-cita untuk masuk di Kepolisian agar tetap menjaga prestasi dan fisik masing-masing agar dapat lolos di seleksi penerimaan Taruna/Taruni.
(ahy/lh)











































