Kalau Bandel, Pendatang Baru Akan Dirazia

Banjir Pendatang di Metropolitan

Kalau Bandel, Pendatang Baru Akan Dirazia

- detikNews
Senin, 19 Agu 2013 15:00 WIB
Kalau Bandel, Pendatang Baru Akan Dirazia
Arus balik di stasiun kereta api Senen, Jakarta Pusat (Lamhot Aritonang/detikFoto.)
Jakarta - Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta menyebut, sebagian besar masyarakat urban yang datang ibu kota berpendidikan di bawah sekolah menengah atas. Fakta ini lah yang menyebabkan mereka sulit bersaing mencari kerjaan formal di Jakarta.

Kalaupun ada tidak jauh dari pekerjaan pembantu rumah tangga atau pekerja bangunan. Sementara untuk masyarakat urban yang berpendidikan tingkat SMA cenderung menyebar ke wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Di beberapa wilayah penyangga Jakarta itu peluang terserapnya pekerjaan lebih besar.

Ada juga yang memilih Jakarta Timur karena wilayahnya yang berdekatan dengan Bekasi dan Depok. “Pendidikan di bawah SMA akan pilih sektor pekerjaan informal. Mereka mengarah ke Tanjung Priok yang peluang usaha informal masih terbuka, seperti pelabuhan dan pasar tradisional,” kata Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Purba Hutapea kepada detikcom, Jumat (16/8) di kantornya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Sementara, kaum urban yang tidak punya keterampilan dan rumah tinggal, mereka nekad menjadi pengemis seperti manusia gerobak dan tinggal di bawah jembatan atau dekat bantaran kali. Wilayah Jakarta yang menjadi sasaran para gepeng ini adalah Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

Namun, dalam praktiknya, para gepeng ini kemudian menyebar di berbagai wilayah Jakarta. Persoalan gepeng ini yang membuat persepsi masyarakat Jakarta menganggap kaum urban di ibu kota meningkat.

“Sebagian yang ada saudaranya tinggal numpang sama saudaranya. Tapi, yang enggak ada ya jadi begitu. Pengemis di jalanan, orang gerobak, sampai pelacuran,” sebutnya.

Purba mengklaim Pemerintah Provinsi DKI sudah bekerjasama dengan pemerintah daerah di Pulau Jawa untuk menekan angka urbanisasi. Salah satunya dengan program bina kependudukan (Biduk), yakni sosialisasi syarat administrasi kependudukan DKI kepada kaum urban lewat media, rukun tangga dan rukun warga.

Program ini dianggap lebih 'dewasa' dan bisa memberikan kesadaran bagi masyarakat urban yang nekad datang ke Jakarta tanpa bekal apa pun. Namun program bina kependudukan tetap diiringin dengan operasi yustisi ketertiban umum.

Operasi yustisi akan dilakukan, apabila program bina kependudukan tidak mempan menekan angka urbanisasi. Bila masih bandel, hukuman yang disesuaikan adalah sanksi administrasi denda dan hukuman kurungan.

Rencananya, operasi bina kependudukan dan yustisi ini akan dilakukan pada September dan Oktober di beberapa wilayah DKI Jakarta. Salah satunya tempat yang selama ini menjadi domisili masyarakat urban.

“Ini secara priodik terus dilakukan. Jadi, enggak seperti tahun lalu yang prioritas hanya pasca Lebaran saja kan ya. Mereka bandel dan enggak bisa pake cara dewasa ya kita hukum,” kata Purba.

Kepala Badan Pusat Statistik DKI Nyoto Widodo mengatakan dalam sepuluh tahun terakhir kaum urban sudah bergeser ke wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi karena pertumbuhan ekonomi. Hal ini membuat Jakarta sudah tidak menjadi magnet tunggal.

Penyebaran kaum urban ke Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi menurut Nyoto menjadi salah satu solusi mengurangi jumlah kaum urban di Jakarta. Fakta ini juga bisa menjadi solusi untuk meratakan roda ekonomi yang tidak hanya di ibu kota.

Bahkan, dia mengusulkan agar ada relokasi kawasan industri yang selama ini ada di Jakarta ke daerah lain, agar peluang pertumbuhan ekonomi tidak jomplang. Sementara, disinggung kaum urban yang secara kasat mata terlihat meningkat seperti para gepeng di jalanan itu menurutnya lebih disebabkan faktor budaya dan mental.

Kebiasaan ini dilakukan para gepeng musiman ini karena ada pemberian uang dari masyarakat ibu kota. Padahal, para gepeng musiman ini rata-rata sedang menunggu panen di kampung halamannya. “Kalau belum panen itu mereka ke Jakarta. Mereka itu sulit (dibenahi) selama mentalnya seperti itu,” sebutnya.

Rasyid, 22 tahun, salah satu pendatang baru di Jakarta mengaku, kedatanganya di ibu kota bukan sekedar mencari kerja, tapi juga ingin belajar hidup mandiri jauh dari orang tua. Pria asal Sumatera Utara ini memutuskan berangkat ke Jakarta bukan berdasarkan ajakan dari kerabatnya, melainkan keinginannya sendiri.

"Di kampung ada kerjaan, mengerjakan (ladang) karet orang, (ke Jakarta) mau coba merantau lah," kata Rasyid kepada detikcom di terminal Lebak Bulus, Jumat (16/8) pekan lalu.


(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads