Pendatang Baru Sebut Jokowi Baik Sama Orang Kecil

Banjir Pendatang di Metropolitan

Pendatang Baru Sebut Jokowi Baik Sama Orang Kecil

Idham Khalid, Hardani Triyoga - detikNews
Senin, 19 Agu 2013 13:27 WIB
Pendatang Baru Sebut Jokowi Baik Sama Orang Kecil
Jakarta - Antrean calon penumpang masih sangat panjang di Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu. Meski telah memasuki H+7 Idul Fitri, calon penumpang yang akan meninggalkan Jakarta tersebut rela berdesak-desakan mulai dari mengisi formulir pembelian tiket hingga mengantre di pintu masuk stasiun.

Berdasarkan penelusuran detikcom, berjubelnya calon penumpang tersebut terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari beberapa keluarga yang mengaku baru selesai menghabiskan masa liburan Lebaran di Jakarta, mahasiswa yang akan kembali ke kampusnya masing-masing hingga beberapa kelompok pemuda yang akan berangkat mendaki gunung untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

Tidak kalah dengan calon penumpang yang akan berangkat, para penumpang yang baru tiba di stasiun Pasar Senen juga tampak berdesakan dan langsung disambut puluhan orang yang menawarkan jasa angkutan seperti ojek, bajaj, dan lainnya.

Salah satu dari penumpang tersebut adalah Mira, 19 tahun. Wanita asal Malang, Jawa Timur, ini merupakan pendatang baru atau yang istilah kerennya disebut urbanis, datang jauh-jauh ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Mira mengaku hijrah ke Jakarta karena ajakan dari saudari sepupunya yang telah beberapa tahun tinggal di Jakarta. Sebab, meski belum tergolong sukses, saudaranya itu sudah membuktikan mampu mengirim duit ke keluarga di kampung dengan jumlah yang tidak tetap pada setiap bulannya.

"Dari pada saya di rumah, gak punya kerjaan dan cuma bebani orang tua, ya saya ikut ajakannya ke sini," tutur Mira yang ditanyai detikcom alasan datang ke ibu kota.

Selain itu, dalam pandangannya, mencari pekerjaan di Jakarta jauh lebih terjamin keselamatannya dibanding ia memilih menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri.

"Kalau jadi TKW kan serem, ada yang sampai disiksa, diperkosa. Di Jakarta kalau ada masalah apa-apa paling nggak pulangnya gampang," ujarnya memberi argumentasi.

Untuk itu, dengan berbekal ijazah sekolah menengah atas yang dimilikinya, ia yakin mampu mendapatkan pekerjaan di ibu kota yang konon disebut lebih kejam dari ibu tiri itu.

Mira mengakui saat ini ia memang belum memperoleh pekerjaan. Namun dengan bantuan saudarinya tersebut ia akan segera mencari pekerjaan tanpa banyak memilih. "Jadi pelayan toko juga gak apa-apa sambil nyari-nyari yang lain," katanya.

Untuk sementara waktu, Mira mengaku ia akan menumpang di kos-kosan saudarinya di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. "Saya tidak punya kenalan lain di Jakarta, Mas," akunya.

Sembari menunggu dijemput saudaranya, Mira berbicara panjang lebar. Ia mengatakan seharusnya pemerintah tidak melarang warga dari berbagai daerah seperti dirinya untuk mencari pekerjaan di Jakarta sebelum mampu memberikan lapangan pekerjaan yang memadai di setiap daerah di Indonesia.

"Kalau di daerah banyak lowongan kerja orang gak akan banyak yang ke Jakarta dong, pemerintah sediakan lapangan pekerjaan yang banyak dong di daerah," katanya meminta.

Mira mengaku cukup girang dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi yang cukup bijak menyikapi kaum urbanis seperti dirinya yang mengadu nasib ke Jakarta. Dari berita yang sempat ia tahu, Jokowi tidak akan melakukan operasi yustisi bagi pendatang baru di Jakarta. "Pak Jokowi kan baik sama orang kecil," ujarnya kemudian seraya tertawa.

*****

Bicaranya polos dan penampilannya pun bisa ditebak kalau Marni, 15 tahun, berasal dari luar Jakarta. Anak baru gede ini nekat datang ke ibu kota karena ingin mengikuti temannya yang bekerja sebagai pelayan warung makan di kawasan Depok, Jawa Barat.

Remaja dari Desa Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat, ini mengaku tidak punya modal untuk datang ke Jakarta. Keahlian memasak pun dia mengaku tidak bisa. Modal formalitas seperti ijazah terakhir yaitu sekolah menengah pertama juga tidak dibawa. Ia hanya membawa tas ransel berisi pakaian serta pegangan uang untuk hidup sebulan.

Dengan percaya diri Marni mengaku sudah pasti diterima bekerja karena pemilik warung satu kampung yang sama. “Temen sih yang tawarin. Kemarin yang punya warung juga dah telpon. Katanya jadi enggak ke Jakarta buat kerja,” ujar Marni bersama temannya saat ditemui detikcom di Terminal Kampung Rambutan, Kamis pekan lalu.

Dengan polosnya, Marni mengaku kalau gaji yang bakal ia terima sebagai pelayan warung nanti sebesar Rp 500 ribu per bulan. Berdasarkan pengalaman dari temannya, dia bilang gajinya akan ditambah setelah tiga bulan pertama kerja.

Upah ini dianggapnya sudah cukup lumayan dibandingkan penghasilan di kampung yang tidak ada sepeser pun. Meski bekerja di warung makan kecil, ia mengaku bisa belajar masak karena teman-temannya bisa mengajarinya.

Selama di Jakarta, Marni mengaku akan tinggal bersama dua temannya yang juga dari kampung di rumah kontrakan pemilik warung di daerah Pal, Cijantung, Jakarta Timur. Hal ini supaya jarak ke tempat kerjanya tidak terlalu jauh.

“Lumayan Mas gajinya buat saya yang cuma lulusan SMP begini. Susah juga cari kerjaan sekarang. Dari pada minta duit sama orangtua kan,” kata dia memberi alasan.

Begitu juga dengan Sriningsih, 21 tahun, yang berani datang pertama kali ke Jakarta seorang diri dengan membawa tas dan secarik kertas alamat kantor. Perempuan dari Desa Cemara Kulon, Indramayu, Jawa Barat, ini mengaku mulai Senin hari ini bekerja sebagai cleaning service di salah satu perusahaan percetakan buku di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur.

Katanya, gaji pokok yang bakal ia terima sebesar Rp 950 ribu. “Lumayan gede segitu, Mas. Makan siang nanti dikasih sama bos. Ada messnya juga katanya,” ujar perempuan berambut panjang lurus ini.

Sri mengaku tawaran pekerjaan ini diperoleh dari temannya yang satu kampung. Ia direkomendasikan oleh temennya yang mengundurkan diri karena akan menikah. Mendapat tawaran bekerja di Jakarta, ia tidak berpikir dua kali setelah orang tua juga memberikan izin. Apalagi bosnya juga baik terhadap karyawan bawah seperti cleaning service.

Menurutnya, meski kehidupan di Jakarta sulit dan mahal, masih lebih baik dibandingkan di kampungnya yang hanya berpangku tangan kepada orang tua. “Sesusah-susahnya Jakarta ya duitnya lebih lancar dibanding di kampung saya. Lagian orang tua ngizinin,” katanya menegaskan.



(brn/brn)


Berita Terkait