Pertumbuhan ekonomi di beberapa kawasan penyangga Jakarta itu disebut mulai tinggi. Laju pertumbuhan penduduknya pun mulai melonjak. Hasil sensus tahun 2000 – 2010 menyebut, angka laju pertumbuhan penduduk di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mencapai 3,67 persen.
Angka itu hampir tiga kali lipat dibandingkan Jakarta yang hanya 1,40 persen. Menurut Nyoto itu terjadi karena kini peluang kerja masyarakat urban memang lebih besar di daerah penyangga Jakarta. Apalagi sejumlah industri kecil, menengah, serta jasa perdagangan sudah mulai tumbuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara, di Jakarta peluang kerja lebih dominan di sektor keuangan dan perbankan yang perlu syarat pendidikan. “Kaum urban itu sebagian pendidikan tamatan sekolah menangah atas dan di bawahnya. Bersaing di Jakarta, kesulitan dengan yang punya pendidikan sarjana,” kata Nyoto kepada detikcom, Jumat (16/8) lalu.
Menurut dia, selama ini persepsi khalayak terkait meningkatnya kaum urban sebenarnya salah. Ada kecenderungan kaum urban memanfaatkan Jakarta hanya sebagai tempat singgah. Setelah ada kepastian informasi pekerjaan, maka mereka hijrah dan menyebar ke wilayah Bogor, Tengerang, Depok, dan Bekasi yang peluangnya lebih besar.
Persoalan lain juga karena biaya hidup di Jakarta lebih mahal, sehingga membuat kaum urban belum bekerja berpikir dua kali. Belum lagi administrasi kependudukan Jakarta yang lebih ketat dengan seringnya operasi yustisi membuat kaum urban kapok.
“Bodetabek itu sudah menjadi magnet lain. Jadi, bukan Jakarta lagi. Jakarta sudah migrasi risen netto negatif karena sudah banyak yang keluar,” ujarnya.
Sementara, disinggung kaum urban yang secara kasat mata terlihat meningkat seperti para gepeng di jalanan itu menurutnya lebih disebabkan faktor budaya dan mental.
Kebiasaan ini dilakukan para gepeng musiman ini karena ada pemberian uang dari masyarakat ibukota.
Padahal, para gepeng musiman ini rata-rata sedang menunggu panen di kampung halamannya. “Kalau belum panen itu mereka ke Jakarta. Mereka itu sulit selama mentalnya seperti itu,” sebutnya.
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta Purba Hutapea mengatakan penurunan kaum urban terjadi karena warga mulai sadar, bahwa peluang kerja dan biaya tempat tinggal di ibu kota lebih berat. Dia mengklaim pihaknya terus mensosialisasikan kepada masyarakat urban, jumlah penduduk di Jakarta sudah melewati batas kuota yang wajar.
Tahun 1965 sampai 1985, Saat era Gubernur Ali Sadikin diprediksi daya tampung Jakarta hanya 5 hingga 6 juta jiwa. Sementara, tahun 2010 – 2030, diprediksi angka daya tampung Jakarta menyesuaikan luasnya yakni 12,7 juta jiwa. Saat ini jumlah penduduk Jakarta pada malam hari tercatat 9,7 juta jiwa.
Namun pada pagi dan siang hari, jumlah ini melonjak menjadi 12,5 juta jiwa. “Iya, itu yang terjadi sekarang sudah seperti 12,7 juta. Bagaimana nanti tahun 2030 kan?,” kata Purba kepada detikcom, Kamis (15/8), pekan lalu.
Dia memprediksi jumlah masyarakat kaum urban yang datang pasca Lebaran tahun ini mencapai 52 ribu orang. Setelah di survei, sekitar 15 ribu di antaranya tidak akan menetap di Jakarta. Mereka mendapat pekerjaan di Bodetabek dan akan kembali ke kampung halamannya.
(erd/erd)











































