Pendatang Baru: Kata Jokowi Kan Tidak Ada Razia

Banjir Pendatang di Metropolitan

Pendatang Baru: Kata Jokowi Kan Tidak Ada Razia

Idham Khalid, Hardani Triyoga - detikNews
Senin, 19 Agu 2013 12:06 WIB
Pendatang Baru: Kata Jokowi Kan Tidak Ada Razia
Fotografer - Pool
Jakarta - Armin, 21 tahun, duduk sembari menghisap rokok di pelataran yang tidak jauh dari pintu keluar Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu. Raut mukanya tampak gelisah. Ia berulang kali menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya.

Namun hanya beberapa detik kemudian ponsel tersebut ia matikan dan menurunkan tangannya dari telinga. Selang beberapa menit ia kembali mencoba menelepon dan mendapatkan hasil yang sama: tidak ada jawaban dari orang yang dihubunginya.

Sebuah kardus bekas mie instan tampak ia letakkan di sampingnya, sementara tas gendong tetap terpasang di punggung. Sejurus kemudian Armin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan mendekat ke tiang bangunan untuk bersandar. Sesekali ia hanya menggelengkan kepala setiap kali didatangi orang yang menawarkan angkutan seperti ojek, bajaj maupun lainnya.

Sekilas Armin terlihat seperti penumpang lain yang baru kembali ke Jakarta setelah menghabiskan masa libur Lebaran di kampung halaman masing-masing. Namun, posisinya yang tidak beranjak dari tempat semula sejak keluar dari pintu keluar stasiun membuat ia terlihat berbeda dengan penumpang ataupun calon penumpang kebanyakan.

"Nelpon saudara, Mas. Nunggu jemputan, tapi HP-nya gak aktif," tutur Armin yang diajak ngobrol detikcom di Stasiun Senen.

Pria berperawakan kurus asal Semarang, Jawa Tengah, ini merupakan salah satu pendatang baru yang mencoba mengadu nasib di Jakarta. Semangat untuk memperbaiki kehidupan ekonomi menjadi alasannya merantau ke Jakarta meski tidak memiliki keterampilan khusus.

Sebab di kampungnya, di salah satu desa di Semarang, pekerjaan sehari-harinya hanyalah sebagai kuli kasar seperti menggarap lahan milik orang lain. "Semoga di Jakarta rejeki saya lebih baik," ucapnya lirih seraya sedikit tersenyum.

Pria yang mengaku tidak tamat Sekolah Menengah Atas ini mengaku sama sekali belum mendapatkan pekerjaan. Ia nekat ke Jakarta karena akan dicarikan pekerjaan sementara oleh kerabatnya yang telah tujuh tahun tinggal di ibu kota dan sekaligus menjadi tempat ia tinggal hingga mampu menyewa kos-kosan ala kadarnya. "Katanya entar diajak kerja bangunan gitu Mas, saudara saya kerjanya itu (kuli bangunan)," ungkapnya.

Menurut Armin, salah satu alasannya berani merantau ke Jakarta sebab berdasarkan pemberitaan yang ada, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan melakukan operasi yustisi bagi pendatang baru ke Jakarta. Jadi, tidak ada ketakutan bahwa ia akan dipulangkan ke daerah asalnya. "Kata Jokowi kan gak ada razia (pendatang baru), kan aman," ujar Armin.

Kendati sebagai pendatang baru di Jakarta, Armin mengaku tidak memikirkan apakah kelak kehidupannya justru lebih buruk dari sebelumnya seperti cerita orang-orang yang tidak mendapatkan pekerjaan yang layak hingga akhirnya menjadi gelandangan atau pengemis. "Coba aja dulu Mas, kalau mau usaha Insya Allah jalan ada aja," kata dia dengan nada optimistis.

*****

Pemandangan serupa ada di Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Kardus bekas yang diikat tali rapiah kuning itu begitu kencang dipegang oleh tangan kirinya. Namun, begitu menginjak pintu keluar Stasiun Jatinegara, wajah Anto, 17 tahun, seperti orang kebingungan dengan melongok ke kanan dan kiri.

Jari tangan kanannya terlihat memegang kuat tas ransel di punggungnya. Tukang ojek dan sopir taksi tembak yang berseliweran menawarkan jasa antar pun membuat wajah pemuda asal Brebes ini pucat.

Pertama kali datang ke Jakarta tampaknya bakal memberikan kesan tersendiri bagi remaja yang hanya lulusan sekolah dasar itu. Anto mengaku lagi menunggu kakaknya yang telat menjemput di stasiun. Ia datang sendirian dengan naik kereta api ekonomi Tegal Arum karena kakaknya pada Lebaran ketiga, balik lebih dulu ke Jakarta.

Hanya berbekal ijazah SD dan tidak punya keterampilan khusus, ia tertarik ikut kerja di bengkel sepeda motor bersama kakaknya. Kebetulan bosnya kakak Anto bersedia menerima anak buah baru di bengkel. “Bengkel sepeda motor kecil sih Mas. Ya itung-itung buat pengalaman. Nanti kan diajarin di sana,” katanya sambil mengusap keringat di wajahnya itu saat ditemui detikcom, Kamis pekan lalu.

Anto membandingkan kalau bekerja di Jakarta akan punya penghasilan melebihi di kampungnya, Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Di kampungnya, Anto kerja serabutan seperti jual koran di stasiun atau membantu orangtua menggarap sawah. Penghasilan sebulan selama di kampung tidak pernah lebih dari Rp 500 ribu. Itu pun masih harus memberikan bantuan kepada orang tua.

Tapi, kalau kerja di bengkel sepeda motor kakaknya, ia bakal mendapat gaji awal Rp 700 ribu. Kata dia, setiap siang akan dikasih uang makan dari pemilik bengkel. “Nginep kan gampang, Mas. Di bengkel bisa kan ada kasur di sana sama kakak. Kemarin Mas aku balik duluan mau ngomong sama bosnya,” ujarnya.

Ditanya soal razia penduduk pendatang, ia mengaku takut dan berharap jangan sampai terkena razia. Namun Anto pun terkesan menyepelekan dengan mengacu kakaknya yang sudah empat tahun di Jakarta tidak pernah kena razia.

Padahal, kakaknya tidak punya izin tempat tinggal, KTP, dan kartu keluarga masih daerah Brebes. “Takut lah kalau kena. Tapi, ora lah (tidak lah). Wong Masku (kakakku) ora pernah,” katanya dengan logat Tegalnya yang kental.

Sementara itu Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, Purba Hutapea, mengatakan pihaknya sebelum Lebaran sudah melakukan penyuluhan sosialisasi program bina kependudukan (Biduk). Dalam program ini Pemerintah Provinsi DKI juga sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah di Pulau Jawa untuk menekan angka urbanisasi.

"Biduk ini tetap diiringi dengan program yustisi ketertiban umum," kata Purba ketika berbincang dengan detikcom di ruang kerjanya, Kamis pekan lalu.

Adapun Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, Nyoto Widodo, menilai operasi yustisi yang selama ini sering digelar pemerintah DKI cukup berjalan efektif. "Dengan seringnya operasi yustisi membuat kaum urban kapok," ujar Nyoto saat ditemui detikcom di kantornya, Jumat pekan lalu.



(brn/brn)


Berita Terkait