Kardus bekas yang diikat tali itu begitu kencang dipegang oleh tangan kirinya. Sementara jemari tangan kanannya memegang erat tas ransel di punggung. Bersama ribuan penumpang kereta api ekonomi Tegal Arum, Kamis siang (15/8) pekan lalu, Anto (17 tahun) menginjakkan kakinya di stasiun Jatinegara, Jakarta Timur.
Ini lah untuk pertama kalinya pria asal Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah ini menginjakkan kaki di Jakarta. Di pintu ke luar wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sang kakak yang berjanji akan menjemput, namun belum juga tiba. Tukang ojek dan sopir taksi tembak yang berseliweran menawarkan jasa antar pun membuat Anto gelisah, wajahnya pun pucat.
Pertama kali datang ke Jakarta tampaknya bakal memberikan kesan tersendiri bagi remaja yang hanya lulusan sekolah dasar itu. Hanya berbekal ijazah sekolah dasar dan tidak punya keterampilan khusus, ia tertarik ikut kerja di sebuah bengkel sepeda motor bersama kakaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
*****

Bagi Malik, 29 tahun, Jakarta menjadi daya tarik tersendiri. Menurut pria asal Madiun, Jawa Timur ini, Jakarta bisa memberikan jaminan pekerjaan. Usai lebaran kemarin dia pun merantau ke ibu kota dengan menumpang kereta api ekonomi Brantas.
Pekerjaan apa pun akan diterima Malik, meski hanya sebagai cleaning service atau offfice boy. Yang penting menurutnya tidak menganggur. Selama ini saat di kampung dia mengaku tak punya pekerjaan tetap. Kegiatannya hanya menggarap sawah milik orang tua.
Sebelumnya, ia kerja sebagai penjaga toko makanan di terminal bus Madiun. Namun, karena pemilik meninggal dan usaha tokonya bangkrut, ia pun menganggur. Ia juga sudah mempersiapkan fotocopy ijazah, pas foto, dan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) untuk melamar pekerjaan.
“Cape mas di kampung gitu-gitu aja. Ingin cari suasana baru dan kerjaan buat bisa nabung. Kerja apa saja yang penting halal,” ujar pria lulusan sekolah menengah atas itu.
Malik juga mengaku selama di Jakarta nanti, untuk sementara ia akan menumpang di rumah pamannya yang mengontrak di Manggarai, Jakarta Selatan. Di Jakarta dia mengaku tidak memiliki kenalan untuk info pekerjaan.
Paling kata dia akan mencari lowongan di internet dan koran. “Dicoba dulu aja mas. Enggak ada salahnya namanya cowo ya merantau wajar. Yang penting bisa bantu orangtua,” katanya.
*****
Bicaranya polos dan penampilannya pun bisa ditebak kalau Marni, 15, berasal dari luar Jakarta. Anak baru gede ini nekad datang ke Jakarta karena hanya ingin mengikuti temannya yang bekerja sebagai pelayan warung makan di kawasan Depok,Jawa Barat.
Remaja dari desa Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat ini mengaku tidak punya modal untuk datang ke ibu kota. Keahlian memasak pun dia mengaku tidak bisa. Modal formalitas seperti ijazah terakhir yaitu sekolah menengah pertama juga tidak dibawa. Ia hanya membawa tas ransel berisi pakaian serta pegangan uang untuk sebulan.
Dia mengaku sudah pasti diterima bekerja karena pemilik warung berasal dari satu kampung yang sama. “Temen sih yang tawarin. Kemarin yang punya warung juga dah menelpon,” kata Marni kepada detikcom, Kamis (15/8) di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur.
Ada juga Sriningsih, 21 tahun, yang berani datang pertama kali ke Jakarta seorang diri dengan membawa tas dan sehelai kertas alamat kantor. Perempuan dari desa Cemara Kulon, Indramayu ini mengaku mulai Senin, hari ini berkerja sebagai cleaning service di salah satu perusahaan percetakan buku di kawasan Pulogadung.
Gaji pokok yang bakal ia terima katanya sebesar Rp 950 ribu. “Lumayan gede segitu mas. Makan siang nanti dikasih sama bos nanti. Ada mesnya juga katanya,” kata Sri. Sri mengaku tawaran pekerjaan ini diperoleh dari temannya yang satu kampung.
Ia direkomendasikan oleh temennya yang mengundurkan diri karena akan menikah. Mendapat tawaran bekerja di Jakarta, ia tidak berpikir dua kali setelah orangtua juga memberikan izin. Apalagi bosnya juga baik terhadap karyawan bawah seperti cleaning service.
Sriningsih, Marni, Anto, dan Malik berharap bisa meraup rupiah di kota Metropolitan. Marni misalnya, sudah dijanjikan akan mendapat gaji Rp 500 ribu per bulan dengan bekerja sebagai pelayan warung. Gaji akan ditambah setelah tiga bulan pertama bekerja.
Pekerjaan awal Marni nanti juga tidak jauh dari mencuci piring, mengelap meja, sampai melayani pembeli. Upah ini dianggapnya sudah cukup lumayan dibandingkan penghasilan di kampung yang tidak ada sepeser pun. Meski bekerja di warung makan kecil, ia mengaku bisa belajar masak karena teman-temannya bisa mengajarinya.
Selama di Jakarta, ia mengaku akan tinggal bersama dua temannya yang juga dari kampung di rumah kontrakan pemilik warung di daerah Pal, Cijantung supaya jarak ke tempat kerja tidak terlalu jauh. “Nginep di rumah bos. Lumayan mas gajinya buat saya yang cuma lulusan SMP. Susah juga cari kerjaan sekarang. Daripada minta duit sama orang tua kan,” katanya.
Sementara Anto dijanjikan akan mendapat gaji awal Rp 700 ribu per bulan. Angka ini tentu lebih besar dibanding penghasilannya di kampung yang tidak menentu. Maklum di kampung dia hanya kerja serabutan seperti jual koran di stasiun atau membantu orang tua menggarap sawah.
Penghasilan sebulan selama di kampung tidak pernah lebih dari Rp 500 ribu. Itupun masih harus memberikan bantuan kepada orangtua. Ditanya soal razia penduduk pendatang, ia mengaku takut dan berharap jangan sampai terkena razia.
Namun dia yakin bisa selamat dari razia. Apalagi kakaknya yang sudah empat tahun di Jakarta tidak pernah kena razia. Padahal, kakaknya tidak punya izin tempat tinggal, KTP dan kartu keluarga masih daerah Brebes.
(erd/erd)











































