Jeritan Pebisnis Parsel:
Jangan Kaitkan KKN dengan Parsel
Sabtu, 30 Okt 2004 12:43 WIB
Jakarta - Pernyataan KPK yang diamini sejumlah pejabat pemerintah untuk melarang menerima parsel, menyentak para pebisnis parsel."Janganlah parsel dibawa sebagai bingkisan yang identik dengan KKN. Tanpa parsel pun KKN sudah ada. Janganlah kami dilibatkan karena dampaknya besar banget untuk usaha kami," kata H.Cholil, pemilik gerai Azwa Parcel yang ditemui detikcom di Jl.H.Samali, Kalibata, Jaksel, Sabtu (30/10/2004).Cholil menyatakan, larangan itu berdampak berarti terhadap bisnisnya. "Larangan itu sangat berpengaruh dengan usaha saya. Saat ini yang membeli baru perusahaan swasta, sehingga order berkurang kalau seperti ini terus usaha kami bisa rugi," akunya.Di Jl Samali yang terkenal sebagai pusat parsel di Jakarta, Cholil mempunyai dua gerai. Tahun ini adalah tahun ketiga dia berjualan parsel. Gerainya menjual parsel berupa kristal dari Ceko, dinner set yang berasal dari Cina dan Inggris, dengan rentang harga Rp 300 ribu hingga Rp 1,2 juta.Parsel berisi makanan juga ada. "Untuk makanan, kami langsung dari pabrik tapi bila kurang kami juga membeli ke supermaket terdekat," ceritanya. Harga parsel makanan bervariasi, dari Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Parsel dikirim bukan hanya di Jakarta, tapi merambah Sukabumi dan Lampung. Konsumennya adalah perusahaan swasta dan BUMN.Cholil merasa penjualan saat ini merosot. "Biasanya 2 minggu sebelum Idul Fitri sudah laku sekitar 300 parsel, tapi ini baru laku 100 parsel. Dan kami biasa mengambil untung Rp 100.000 per parsel tapi sekarang kecil sekali. Padahal saya harus menggaji 15 orang anak buah yang telah saya ambil dari para pengangguran yang saya didik sehingga dapat membantu saya," urainya.Merosotnya penjualan juga disampaikan Indra, pemilik galeri Restu Yunara, juga di Jl.Haji Samali. "Parsel jangan dilibatkan dengan KKN. Parsel hanya berharga Rp 200 ribuan, hanya suatu bingkusan atas jasa atau ucapan yang telah menjadi tradisi dari tahun ke tahun," pinta Indra.Indra menjual parsel kristal dan makanan dengan variasi harga Rp 150 ribu hingga Rp 1,8 juta, konsumennya dari kalangan swasta dan negeri. "Sampai saat ini baru terjual 60-70 parsel, padahal hari begini begini sudah laku 100 parsel. Saat ini bisa dibilang sepi," cerita Indra.
(nrl/)











































