Undip Semarang Pelopori Produksi Massal Artemia

Undip Semarang Pelopori Produksi Massal Artemia

- detikNews
Jumat, 29 Okt 2004 12:58 WIB
Semarang - Perikanan dan kelautan sering kali lepas dari pandangan orang. Tidak demikian bagi peneliti Unversitas Diponegoro (Undip) Semarang. Mereka justru memfokuskan pada bidang ini, dan akhirnya berhasil memelopori produksi massal artemia di Indonesia."Artemia adalah pakan hidup benih (larva) udang dan ikan. Bentuknya seperti kista. Hingga saat ini, belum ada satu pun bahan yang dapat mengungguli kandungan gizi artemia," tutur salah satu tim peneliti Undip, Agung Sudarto, ketika ditemui di kantornya, Kampus II Undip Tembalang Semarang, Jum'at (29/10/2004).Selama ini, para petani tambak mendapatkan pakan peliharaannya dari luar negeri. Karena banyaknya petambak, jumlah impor mencapai 960 ton per tahun dengan harga yang sangat fantastis. Dengan adanya produksi massal artemia, maka penghematan bisa dilakukan secara besar-besaran."Secara nasional, kebutuhan akan kista artemia sekitar 75-80 ton per tahun. Itu akan tercukupi jika kita bisa memperluas lahan produksi. Tak hanya di Rembang, tapi juga di darah lain. Sayangnya, tidak semua daerah cocok untuk produksi kista. Hanya daerah pantai yang panas yang bisa dijadikan lokasi produksi," paparnya.Ketika ditanya soal proses aplikasi kista terhadap tambak, Agung menyatakan kista yang bentuknya seperti pasir berwarna coklat itu bisa dalam disimpan kering atau basah. Setiap gramnya berisi 225 - 260 ribu telur. Petani tambak tinggal memasukkan saja kista ke dalam tambaknya. Kista itu akan menetas dalam 1 kali 24 jam.Lebih lanjut Agung menjelaskan, tetasan kista itulah yang akan menjadi pakan hidup ikan dan udang. Larva ikan dan udang sangat senang dengan kista. "Selain mempercepat pertumbuhan benih ikan dan udang, kista juga tak berefek samping. Karena mereka berada dalam lingkaran kehidupan yang tepat," tandasnya.Penelitian yang diadakan tim Undip berada di tambak garam Gedongmulyo, Lasem, Rembang, Jawa Tengah seluas 5 hektar. Penelitian yang dilakukan sejak tahun 2003 ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Iptek, Lembaga Penelitian Undip, PT. ARLeS WACo, dan Kementerian Ristek."Setelah sekitar 6 bulan, kami berhasil memproduksi artemia sebanyak 200 kilo. Setiap hektar menghasilkan 1,5 - 5 kilo," ungkap Agung.Agung menambahkan, dirinya akan senang jika ada kolaborasi antara peneliti dan pengusaha. Terutama dalam hal pendistribusiannya. Pasalnya meski sudah terbukti secara klinis, artemia hasil penelitiannya belum tersebar luas. Padahal jika sudah tersosialisasi, maka petani tambak akan mendapatkan keuntungan berlipat.Agung menduga, karena produk penelitian itu merupakan yang pertama di Indonesia, wajar saja kalau pengusaha atau petani tambak belum getol menggunakannya. "Tapi tidak lama lagi kami akan me-launch-nya ke massyarakat secara luas. Tentu saja dengan bekerja sama dengan pengusaha dan petani tambak," katanya."Ini juga salah satu sumbangsih kami pada pemerintahan baru. Terutama Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dikomandani orang yang berbasis militer, Freddy Numbery," demikian Agung. (nrl/)


Berita Terkait