Seperti yang terlihat Rabu (12/8/2013) ini sekitar pukul 09.15 WIB. Walau jumlah bus yang masuk terminal mulai mengalami penurunan intensitas dibandingkan subuh tadi, namun jumlah para penjual jasa ojek dan taksi tersebut malah bertambah.
Satu bus yang masuk dan menurunkan penumpangnya akan didatangi sekitar 3 sampai 5 orang. Mereka menawarkan jasa ojek dan taksi dengan harga yang cukup tinggi dibandingkan hari biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka nggak maksa memang, tapi caranya itu main tanya tempat tinggal kita. Harusnya kan mereka bilang dulu, saya mau naik ojek atau taksi gitu, baru tanya," ujar salah satu penumpang bus bernama Rano yang baru tiba dari Wonosari.
Untuk ke Cibitung, seorang sopir taksi mematok harga Rp 200 ribu. Harga ini bukan berdasarkan argo. Sementara jasa ojek mematok harga untuk ke Klender, Jakarta Timur, sekitar Rp 50 ribu.
"Kemahalan harga dari mereka itu, nggak masuk akal. Mendingan saya stop taksi di luar yang pakai argo, bisa Rp 50 ribu lebih murah," ujar Tania (27) yang hendak ke Cibitung.
Menurut salah satu sopir taksi yang mengaku bernama Bobi, sudah menjadi hal yang biasa setiap tahun saat arus balik tak ada yang menggunakan argo. Bobi juga membantah harga yang dipatok terlalu mahal.
"Ini kita buat timer Rp 10 ribu, bensin juga sudah mahal. Kalau mereka nggak mau, kita nggak ada yang maksa kok," ujar Bobi yang kerap menanyakan daerah tempat tinggal para penumpang bus yang baru tiba di terminal.
Berdasarkan laporan yang diterima Pos Pengamanan Terpadu Angkutan Lebaran 2013, terjadi tindak kriminalitas berupa pemerasan di terminal ini. Korban bernama Wawan (21) diperas oleh dua orang seketika setelah turun dari bus, pada Minggu (11/8) pukul 02.00 WIB dinihari. Modus awalnya, para pemeras itu memalak uang makan, namun akhirnya barang-barang korban ikut diminta juga.
"Pelaku langsung menggeledah korban dengan paksa, mengambil dompet dan satu handphone. Kerugian ditaksir sekitar Rp 500 ribu. Tapi korban tidak lapor polisi," kata salah seorang petugas pos yang enggan disebutkan namanya.
(dnu/nrl)










































