Belum Jelas, Program Kerja 100 Hari Menpera
Kamis, 28 Okt 2004 23:06 WIB
Jakarta - Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Yusuf Asyari, belum dapat dengan tegas mengungkapkan program kerja 100 hari pertama. Penyebabnya Departemen yang dipimpinnya ini belum memiliki struktur organisasi.Pernyataan di atas disampaikan Yusuf dalam acara perkenalan dan silahturahmi dengan kalangan Real Estate Indonesia (REI) di kawasan Kafe Tenda Semanggi (KTS), Jakarta Selatan, Kamis (28/10/2004) malam."Sampai saat ini saya belum mempunyai cukup staff senior untuk membantu penyusunan program kerja. Sabar dulu, beri saya waktu," ujarnya. Saat ini yang menjadi prioritasnya adalah merampungkan struktur organisasi yang efektif bagi kementrian yang baru terbentuk ini.Namun demikian, Yusuf sudah memiliki gambaran program kerja yang akan digenjotnya nanti. Salah satunya, mengeluarkan kebijakan untuk mendorong percepatan penyelesaian pembangunan rumah-rumah sederhana sehat (RSH). Program penyediaan rumah bagi kalangan menengah bawah, merupakan salah satu perhatian pemerintahan SBY-JK.Menurutnya, Presiden SBY prihatin dengan perkembangan pembangunan perumahan yang lebih mengutamakan pemukiman mewah dan sarana perbelanjaan. Di sisi lain mengabaikan pengadaan rumah tinggal murah yang layak bagi rakyat berpenghasilan rendah. "Maka pembuatan kebijakan untuk pengadaan rumah murah, merupakan tugas penting kementrian perumahan rakyat untuk lima tahun ke depan," lanjutnya.Sehubungan dengan itu, Yusuf akan mempelajari kemungkinan untuk menghidupkan kembali kebijakan 1:3:6 yang pernah diberlakukan dahulu. Kebijakan tersebut berlaku bagi developer perumahan mewah. Bahwa setiap satu rumah mewah yang dibangun, harus diikuti dengan pembanguan tiga rumah sederhana dan enam rumah sangat sederhana (RSS).Kebijakan lain yang akan ditinjaunya, adalah program sejuta rumah per tahun bagi rakyat kecil. Progam yang berlangsung sejak beberapa tahun silam ini, belum menunjukkan hasil sesuai dengan target awal. Bahkan untuk tahun 2003, tingkat keberhasilannya kurang dari 40 persen. "Saya belum bisa pastikan apakah program ini diteruskan atau tidak. Saya pelajarinya dulu," demikian Yusuf.
(dit/)











































